Informasi dan berita tentang caleg, capres & Pemilukada. Redaksi: (021)271.01.381

English French German Spain Italian Dutch Russian Portuguese Japanese Korean Arabic Chinese Simplified twitterfacebookgoogle plusrss feedemail

Korupsi jangan dijadikan budaya! Pilih pemimpin yang cinta rakyat, bukan cinta kekuasaan! Bagian Iklan Hubungi (021)27101381 - 081385386583



Jumat, 23 Oktober 2009

Ucapan Selamat atas Pelantikan SBY-Boediono


Selamat atas dilantiknya Presiden dan Wakil Presiden RI
Soesilo Bambang Yoedhono dan Boediono
untuk masa bhakti 2009-2014

Azhar Laena, SE.
Ketua DPRD Kota Bekasi 2009-2014

Sabtu, 12 September 2009

Persaingan Internal Demokrat untuk Kandidat Ketua DPRD Kota Bekasi Adem-Adem

Hanya muncul 3 nama Kandidat yang menguat

Bekasi - dobeldobel.com
Berdasarkan investigasi ke internal tokoh partai Demokrat di tubuh DPC Partai nya SBY ini, yang muncul hanya ada 3 nama kandidat paling mungkin, yakni Andy Zabidi, Ronny Hermawan dan Dadang Ashgar Noor.
Ketua DPC, Awing Asmawi sendiri tak mau memberikan komentar, namun menurut sumber tertentu memang dari pusat hanya 3 nama itulah yang paling kuat kemungkinannya untuk mengemuka sebagai kandidat ketua DPRD Kota Bekasi.

Sementara dari partai lain, yakni PKS, Golkar dan PDIP sesuai dengan SUSDUK yang keluar dari pemerintah pusat hanya bisa menempati posisi Wakil Ketua DPRD.
Sidik Rizal

Sabtu, 11 Juli 2009

Agung Laksono: Kehilangan Jabatan, Bukan Kiamat

Senin, 15/06/2009 13:26 WIB

KEPUTUSAN Mahkamah Konstitusi, yang membatalkan penetapan perolehan kursi dan caleg terpilih DPR periode 2009-2014, pekan lalu, memupus harapan Agung Laksono untuk kembali menjadi anggota dewan. MK menganggap, prosedur dan mekanisme penetapan anggota dewan itu, keliru dan tidak sesuai UU No 10/2008 tentang Pemilu.

MK menyebutkan, kekeliruan KPU pada penetapan perolehan kursi tahap ketiga. KPU menghitung sisa suara yang ditarik ke provinsi, hanya dari daerah pemilihan yang punya sisa kursi. Padahal, mengutip UU Pemilu, KPU menyebutkan penentuan kursi sisa harus dengan menarik seluruh sisa suara dari seluruh daerah pemilihan. Akibat salah hitung itu, Agung terancam gagal jadi anggota DPR periode 2009-2014, bersama 15 orang lainnya.

Untuk memperjelas duduk soalnya, Kurnia Illahi dari beritabaru.com
mewawancarai Agung Laksono, Ketua DPR (2004-2009), di kantornya, belum lama ini.

Berikut wawancara lengkap dengan Agung Laksono, yang juga Wakil Ketua Umum Partai Golkar.

Sudah dengar, kursi DPR periode 2009-2014 Anda terancam dicabut, setelah keluarnya putusan baru Mahkamah Konstitusi?


Ya kita tunggu sajalah keputusan Komisi Pemilihan Umum (KPU). Karena untuk penetapan suara, penetapan kursi, penetapan anggota DPR, itu kewenangan KPU. Jadi, saya kira tunggu saja.

Dalam pandangan Anda, apakah keputusan KPU itu sudah tepat, atau sudah melampaui batas kewenangannya?


Ya, banyak yang berpandangan seperti itu; MK tugasnya ya mengawal Konstitusi sama Undang-undang Dasar (UUD). Kalau ada UU yang dipandang sebagian, atau seluruhnya itu bertentangan dengan UUD, bertentangan dengan konstitusi kita, itu kewenangan penuh di tangan MK. Terhadap ketentuan peraturan-peraturan ketentuan UU itu, kewenangan Mahkamah Agung. Dan keputusan KPU UU No.15 tahun 2009 mengenai mekanisme tata cara penghitungan suara itu yang saya tau sudah diterima Komisi II DPR, yang saat itu ada unsur pemerintah, ada unsur anggota dewan sebagai pembuat UU.

Langkah Anda selanjutnya, menyikapi keputusan MK itu?


Ya, saya serahkan sepenuhnya kepada institusi berwenang. Saya sudah siap apa pun yang terjadi. Seperti saya katakan, siap mengurus negara selama ini, kalau tidak ya mengurus partai. Kalau mengurus partai pun, tidak, ya mengurus keluarga sendiri. Pokoknya, tidak ada masalah. Sebagai politisi ya harus menghormati keputusan yang ada. Saya, sebagai
anggota dewan itu come and go, bisa terpilih lagi, bisa tidak, itu bukan sesuatu yang luar biasa.

Persiapan untuk mengurus partai itu sudah sejauh mana?


Tidak ada persiapan apa-apa.

Untuk posisi ketua umum Partai Golkar bagaimana, Anda tidak berminat?


Saya sering disebut-sebut bersama-sama dengan Aburizal Bakrie dengan Akbar Tandjung, tapi semuanya itu baru wacana. (beredar isu Agung Laksono bersama anggota Dewan Penasehat Golkar Aburizal Bakrie, yang juga Menko Kesra, dan mantan Ketua Umum Akbar Tandjdung.

Tapi kalau keputusan MK ini dilaksanakan anda masih optimis bisa masuk kembali sebagai anggota dewan?

Optimis tidak optimis saya serahkan kepada KPU.

Kalau KPU mengabaikan bagaimana?


Ya tentu KPU punya dasar-dasar yang kuat, apakah itu dilaksanakan atau tidak saya kira semuanya harus didasarkan pada kewenangan masing-masing.

Kalau dari partai golkar sendiri pandangannya bagai mana?


Ya pasti nanti, tentu partai akan ada sikap, tapi saya belum tahu sikap partai.

Apakah ada upaya hukum yang lain?


Mungkin saja akan ada, tapi saya serahkan kepada partai.


Pada pemilihan legislatif, 9 April 2009, Agung Laksono, caleg dari Partai Golkar, daerah pemilihan DKI Jakarta I. Pada perhitungan pertama, sudah santer kabar tokoh 'beringin' ini, bakal gagal menjadi anggota parlemen periode mendatang. Tetapi, setelah keluarnya keputusan KPU yang melakukan perhitungan tahap ketiga, yang dipermasalahkan MK itu, KPU menyatakan Agung lolos, dan menjadi salah satu dari 560 anggota DPR periode 2009-2014, yang akan dilantik 1 Oktober 2009.

Kurnia Illahi sempat mewawancarai Agung Laksono di ruang kerjanya, berkaitan dengan isu tersebut. Berikut ini petikan perbincangannya.


Hampir dipastikan nama Anda tidak lolos ke Senayan untuk yang kedua kalinya. Berdasarkan hasil penghitungan KPU, kemungkinan Anda tidak lolos ke Senayan, cukup besar. Bagaimana tanggapan Anda?

Meskipun demikian, saya masih menuggu hasil akhir penetapan sesungguhnya atas kursi yang diperoleh masing-masing partai. Yang saya peroleh untuk di Jakarta Timur itu urutan ke empat dari enam kursi yang ada. Yaitu, setelah Demokrat, PKS, dan PDIP. Itu untuk hitung-hitungan suara.

Artinya, Anda tetap optimistis terpilih kembali?

Ya, saya serahkan saja ke KPU yang punya kewenangan untuk menetapkan.

Kalau tidak lolos bagaimana ke depan langkah Anda?


Ya, kalau tidak lolos ke Senayan kan paling lolos ke rumah saya...(sambil tertawa). Tidak ada masalah. Di Partai Golkar, masih ada yang harus diurus. Saya kira tidak perlu seperti menghadapi kiamat kalau tidak memperoleh jabatan. Saya kira ini harus dihadapi dengan tenang, selama kami tidak dicurangi, selama itu mengikuti peraturan yang ada. Kalau sudah sesuai prosedur, lalu hasilnya seperti apa pun, ya harus legowo, harus senantiasa ikhlas.

Bagaimana Anda menilai pelaksanaan Pemilu 2009 ini?

Kalau pemilu saat ini saya kira sudah diketahui seluruh masyarakat, terutama keluhannya dari segi penyelenggaraan. Yah, dari awal saja masyarakat sudah mengeluh tentang DPT (Daftar Pemilih Tetap). DPT itu sudah dikeluhkan, kurang sosialisasi, kurang penjelasan dan ternyata pada hari H banyak yang kecewa, karena banyak yang tidak terdaftar sebagai
pemilih. Sampai pada hari pencoblosan banyak anggota masyarakat yang tidak menerima hak pilih, sehingga mereka tidak dapat menggunakan hak pilihnya yang merupakan hal sangat penting.

Itu salah satu dari kinerja KPU yang ternyata sangat mengecewakan masyarakat. Sekarang dengan menjelang pilpres itu mulai ada perbaikan, seperti gencar diberitakan di berbagai media. Saya kira kalau seperti itu dilakukan saat menjelang pileg lalu, masyarakat masih relatif tertolong. Jadi, tidak seperti sekarang yang kurang lebih hampir 50 juta orang tidak dapat menggunakan hak pilihnya.

Terus, setelah ini apakah langkah-langkah Anda, kembali menjadi dokter atau bagaimana?


Ya, kita lihat nantilah, saya belum ada planning, kecuali ya, mengurus partai.

Kalau boleh tahu, berapa dana yang sudah dikeluarkan untuk kampanye pemilu legislatif 2009?

Ya, relatif-lah, karena saya tidak tau persis angkanya. Saya tidak mencatat. Tapi, tenaga dan waktu yang dicurahkan cukup besar, mengingat pemilu kali ini (dengan sistem suara terbanyak) yang dihadapai bukan saja di eksternal, menghadapai para caleg dari partai-partai lain, tapi di internal juga. Tetapi, memang dari aturannya sangat complicated. Barangkali dari pemilu setiap lima tahun yang paling terasa berat untuk
dijalani oleh caleg adalah pemilu sekarang.

Apalagi, yang Anda catat dari pelaksanaan Pemilu 2009?


Penyelenggaraan kampanye yang relatif panjang, padahal tidak sesuai diharapkan, tidak seimbang dengan persiapan KPU. Seperti sosialisasi tentang tata cara, mungkin tingkat kesalahan juga meningkat, meskipun belum ada laporan tapi saya merasakan sekali ada peningkatan kesalahan. Nah itu semua keadaan yang saya lihat perbedaannya dengan pemilu yang lalu.

Setelah melalui pengorbanan dan menghabiskan dana cukup lumayan dalam kampanye tetapi tidak lolos juga ke Senayan, bagaimana Anda menyikapinya?

Saya kira dalam dunia politik berhasil dan tidak berhasil harus dipahami sebagai resiko. Saya kira bahkan dalam demokrasi juga kalah dan menang adalah resiko yang harus dihadapi. Sepanjang itu dilakukan sesuai prosedur, ya harus diterima. Sebagai caleg, atau elit pemimpin, jangan hanya siap untuk menang tapi tidak siap kalah.

Banyak juga teman yang tidak terpilih lagi, seperti saya, bersepakat agar kami semua menyelesaikan tugas yang diemban pada periode sekarang, yang masih ada 4,5 bulan lagi. Karena itu, tidak boleh mutung karena tidak terpilih lagi, jalankan itu dengan baik. Ini juga bagian dari pendidikan politik kepada publik. Bagi yang terpilih lagi tentu ke depan harus bersikap jauh melebihi dari apa yang selama ini dilakukan.

Kesan-pesannya selama ini sebagai ketua DPR?


DPR sekarang ini, ya masa transisi, yang utama adalah bagaimana menjaga tetap tegaknya demokrasi. Tentu saja dalam melaksanakan hal ini, masih ada suasana euforia terhadap kebebasan, tapi alhamdulillah selama ini semua berjalan sesuai koridor yang kami tetapkan, sehingga forum-forum rakyat selama ini, kami bebas menyatakan pendapat, baik
dalam fungsi pengawasan maupun legislasi dan hak budget. Itu sudah dilaksanakan.

Ada pesan-pesan Anda untuk para anggota dewan berikutnya?

Kami menyarankan ke depan, terutama pada anggota DPR yang akan datang, periode 2009-2014, sebaiknya pada awal dilakukan semacam pembekalan, atau semacam orientasi, sehingga para anggota DPR nanti ini, yang 60 persen wajah baru, dan ada yang usianya muda-muda, dengan latar belakang kesehari-hariannya, latar pendidikannya mungkin bukan di bidang politik, bisa menjalankan tugasnya dengan baik.

Setelah terjun, sebaiknya masa adaptasi itu tidak terlalu lama. Karena itu, sebaiknya ada semacam pembekalan khusus orientasi, sehingga mereka dapat mengetahui tentang kode etik sebagai anggota dewan. Mereka juga bisa mengetahui tentang tata tertib DPR, mana yang harus dilakukan dan mana yang harus tidak boleh dilakukan.

Kemudian juga perlu penguasaan masalah ketatanegaraan secara luas, sistem ketatanegaraan kita seperti apa. Kemudian juga apa yang telah dicapai pada periode lalu, setiap bidang sesuai tugas konstitusi di bidang penyusunan undang-undang apa yang harus dilakukan, apa yang masih dilakukan dan seterusnya. Jadi, untuk itu perlu ada pembekalan orientasi, sehingga kinerja DPR ke depan lebih baik dari kinerja DPR periode
2004-2009.

Setelah tidak di parlemen lagi, ketika ada tawaran di kabinet apakah akan menerima tawaran tersebut?


Ya, saya belum berbicara, belum ada pembicaraan sampai ke situ...

Lalu, bagaimana dengan posisi ketua umum partai Golkar, apakah Anda berminat?

Nah itu nanti pada musyawarah nasional. Ya, saya kira tidak boleh berbohong ya, setiap kader punya cita-cita seperti itu (untuk mejadi ketua umum sebagai karir politik). Saya kira wajar, tapi sekali lagi berhasil atau tidaknya tergantung dari upaya tersebut. Tetap, saya berpandangan hal itu harus dilakukan pada waktunya, kan tidak selamanya pak Jusuf Kalla menjabat ketua umum, ada periodenya.


BIODATA

N a m a : Agung Laksono
Tempat/Tanggal lahir : Semarang, 60 tahun silam
Jabatan : Ketua DPR (2004-2009)
Kepartaian : Wakil Ketua Umum Partai Golkar (2004-2009)
I s t r i : Sylvia Amelia Wenas
A n a k : Tiga (3): Shelly Kencanasari Laksono-Silalahi, Dave Akbarshah Laksono, dan Alia Noorayu Laksono,


Pendidikan

1. Sarjana Kedokteran Universitas Kristen Indonesia, Jakarta (1972)
2. Pendidikan Eisenhower Programme di Amerika Serikat (1990)

Jabatan

1. Sekretaris FKP MPR periode 1993-1997
2. Ketua Umum BPP HIPMI periode 1983-1986
3. Ketua Umum DPP AMPI (1984-1989)
4. Sekretaris Jenderal PPK Kosgoro periode 1990-1995
5. Ketua Umum PPK Kosgoro 1957 (sejak 2000)
6. Direktur Utama PT Cakrawala Andalas Televisi (ANTeve) periode 1993-1998
7. Menteri Pemuda dan Olahraga Indonesia Kabinet Pembangunan VII (1998) dan Menteri Negara Pemuda dan Olahraga pada Kabinet Reformasi.
8. Anggota DPR periode 1999-2004
9. Ketua DPR periode 2004-2009

Rabu, 24 Juni 2009

Paparkan Kemiskinan, Prabowo Pamerkan Uang Rp 20 Ribu

Bagaimana Prabowo menggambarkan kemiskinan rakyat Indonesia?


Jakarta, dobeldobel.com
Memperhatikan kampanye-kampanye yang dilakukan Cawapres Prabowo, maka mau nggak mau saya melihat banyak sisi kreatif ide dan komunikasi taktis serta strategis yang dilakukan sang kandidat termuda ini. Berikut berita yang saya peroleh dari internet.

Jakarta - Cawapres Prabowo memaparkan visi misi menyangkut pembangunan diri bangsa. Menurut Prabowo, pembangunan jati diri tidak akan berhasil tanpa pembangunan ekonomi. Saat memaparkan soal kemiskinan, Prabowo menunjukkan selembar uang Rp 20 ribu.

"Cita-cita kita ingin membangun masyarakat yang merdeka, berdaulat, adil, dan makmur. Tidak ada jati diri bngsa yang bisa lepas dari kemakmuran. Bila miskin bangsa itu akan punya jati diri lemah," kata Prabowo dalam debat cawapres di Studio SCTV, Senayan City, Jakarta Selatan, Selasa (23/6/2009).

Prabowo prihatin bangsa yang telah merdeka secara politik selama 64 tahun ini masih ditinggali oleh sekian banyak orang miskin. Berdasarkan standar Bank Dunia, kata Prabowo, hampir 50 persen penduduk Indonesia, yakni 115 juta orang, hidup dengan kurang dari Rp 20 ribu per hari.

"Mereka hidup dengan kurang dari Rp 20 ribu," tegas Prabowo seraya mengeluarkan selembar uang Rp 20 ribu dari saku kemeja batiknya dan membebernya ke arah hadirin.

"Kalau di Senayan City, 1 cangkir saja tidak bisa kita beli," imbuh mantan Pangkostrad ini dengan penuh semangat.

Dia mengatakan, kekayaan Indonesia selama ini terus mengalir keluar dan tidak dinikmati oleh bangsa sendiri. Jika itu tidak dihentikan, Prabowo yakin pembangunan jati diri bangsa akan gagal.

"Tidak bisa kita membangun jati diri tanpa menyelesaikan masalah kunci, yakni menyelamatkan kekayaan agar tidak bocor ke luar negeri," tegasnya.

Untuk mewujudkan itu, Prabowo bersama Mega berjanji menerapkan ekonomi kerakyatan. Dengan ekonomi kerakyatan, kekayaan Indonesia bakal dinikmati seluruh masyarakat secara merata, tidak hanya oleh segelintir orang yang diuntungkan dengan sistem. ( sho / nrl )

detikPemilu.

Jakarta - Utang pemerintah dalam kurun empat tahun terakhir rata-rata meningkat sekitar Rp 100 triliun per tahun. Peningkatan terjadi baik pada utang luar negeri maupun surat berharga. Demikian ditegaskan pengamat ekonomi Ichsanuddin Noersy.

Kepada harian Merdeka, beberapa waktu lalu, Ichsanuddin mengungkap, utang pemerintah pada tahun 2004 sebesar Rp 1.275 triliun. Sementara awal tahun 2009 melonjak menjadi Rp 1.667 triliun.

"Jika diambil rata-rata, maka dalam empat tahun terakhir, utang pemerintah mencapai Rp 100 triliun per tahun," kata mantan anggota DPR-RI dari Fraksi Golkar tersebut.

Komposisinya, tambah Ichanuddin, pinjaman luar negeri meningkat dari Rp 613 triliun menjadi Rp 764 triliun. Sementara surat berharga negara meningkat dari Rp 662 triliun menjadi Rp 920 triliun.

"Melihat fakta-fakta itu, maka klaim pemerintah bahwa utang kita sudah menurun, salah besar," kata pengamat ekonomi yang selama ini dikenal suka bicara apa adanya tersebut.

Sebagai perbandingan: selama 32 tahun Orde Baru berkuasa, jumlah utang sebesar Rp 1.500 triliun, atau hanya meningkat sekitar Rp 46.875 triliun per tahun. Sementara di era pemerintahan Megawati selama 3.5 tahun, utang cuma meningkat Rp 12 triliun, atau 4 triliun per tahun. (adv/adv)

Kamis, 04 Juni 2009

Kenapa Cawapres SBY bukan JK atau Megawati? Bagian 1

Rata TengahKARENA SELURUH TEMAN SBY,
HANYA YANG NAMANYA BERAKHIRAN "O"?


Jakarta, dobeldobel.com
Menonton acara "CAPRES BICARA" TransTV, yang dibawakan oleh Helmy Yahya tgl 04 Juni 2009, jam.... saya tersenyum mendengar Helmy mengatakan, bahwa semua teman dekatnya di sekolah dulu, namanya semua berakhiran huruf "O".

Bisa dibayangkan kan, kenapa cawapres SBY untuk pilpres 2009 jelas bukan Megawati SP, atau Jusuf Kalla, apalagi Tiffatul Sembiring. Lah bagaimana dengan Sutrisno Bachir, kan "O" tuh belakangnya. Memang dia berakhiran "O" namanya, tapi Sutrisno Bachir (yang nama terakhirnya berakhiran "R"), ternyata adalah "teman" dari semua capres... (hehehehe! Maaf Bung Trisno). Ini artinya dalam kamus politiknya SBY, (dan saya berani memastikan, nggak pake mungkin lagi deh!!!), tidak ada kata "teman" bagi semua orang. Apalagi di politik, kan kita tahu sendiri, "Tak ada teman yang abadi, tak ada musuh selamanya. Yang ada adalah kepentingan yang abadi."

Seandainya seluruh orang Indonesia berfikiran "setengah imbisil" menanggapi pernyataan Helmi Yahya, bahwa kalau begitu kalau mau jadi temen deketnya SBY ya harus mengubah namanya berakhiran "O", kan? Maka mungkin nggak aneh kalau terjadi "pesta bubur merah-putih" besar-besaran penggantian nama para capres di Indonesia. Misalnya Megawati Sukarnoputri.... berubah jadi Megawati Sukarnoputro... hehehehe nggak lucu yah? Atau Jusuf Kalla, berubah jadi Jusuf Kallo. Dan gue juga akan heran kalau dari PKS, mungkin Tiffatul Sembiring akan dengan "setengah ikhlas" mengganti namanya jadi Tiffatul Sembirong (nggak enak dengernya, afwan ya Bang Tiffatul!!! Jauh lebih baik daripada Tiffatulo, kan?), atau Tiffatul Sembiringo (Wah keren banget neh namanya, panggilannya pasti Bang Ringo... hehehe!), atau misalnya Hidayah Nur Wahid berubah jadi Hidayah Nur Wahido (bukan Hidayahoo Nuro Wahido, kan bang?).

Terus bagaimana dengan nama Prabowo Subianto dan Wiranto? Kan dua-duanya berakhiran "O". Wah kalau ini seorang rekan saya, "Si Entong" (maaf nama aslinya nggak mau disebut) yang merasa pakar di bidang kalkulasi politik bilang, "Nggak bakalan mungkin tim sukses SBY mau dengan bodohnya memilih serta memperhitungkan capres-capres dari partai pengusung yang "kecil" jumlah perolehan parlemennya, om Sidik!". (Saya sih cuma mengangguk-ngangguk seolah ngerti... padahal?)

Tapi tetap saja kan Prabowo Subianto itu temannya SBY? tanya saya berlanjut. Entong yang mukanya mirip anak saya si Rizal ini, menjawab, "Ya iya lah... Kan seperti kata Helmy Yahya, hampir semua temen dekatnya SBY, nama nya berakhiran dengan hurup "O". Dan ini berarti Wiranto juga teman dekatnya SBY, sekalipun pernah jadi komandannya di struktur ketentaraan". Dan saya pun ngangguk-ngangguk lagi berusaha ngerti... (Ngerti nggak loh?)

Karena masih penasaran saya bertanya lagi lebih jauh kepada Entong yang kini mengelola sebuah blogs kritis terhadap pemerintah rezim siapa aja, mulai dari Soekarno sampai pemerintahan SBY ini. "Bang Entong, darimana ente tahu kalo SBY itu temen deketnya Prabowo? Apa bukan sekarang ini mereka saling berseteru memperebutkan posisi dan dukungan suara untuk pilpres besok? Walaupun beda kelas, satu untuk capres dan satu lagi untuk cawapres! Bahkan ada yang memprediksikan Prabowo bisa mengalahkan dan menjungkal SBY?" (saya berusaha sebisa mungkin pasang wajah nggak berkesan "tolol" banget, takut nanti diledek sama temen saya yang kadang suka aneh dan konyol ini).

"Ah mas Sidik ini gimana seh! Mang nggak merhatiin kalimat saya? Mereka itu dulu adalah teman lama. Dan kalau sekarang, saya bilang sekarang neh... bukan dulu... mereka jadi bersaing, itu semua karena pilpres ini. Nggak baca apa bahwa mereka inilah yang dalam cerita tokoh pewayangan kisah 'Mahabharata'nya versi Indonesia, adalah para jenderal yang sedang bertempur memperebutkan perhatian seluruh bangsa ini dalam ajang pertempuran pilpres 2009... Udah denger kan perang terbuka kubu Prabowo dan SBY di Ponorogo? Kita harus ngerti itu mas Dik!" jelasnya sambil sedikit ngotot dan muncrat ke muka saya.

Saya pun kesal sambil mengusap semburan ludahnya di muka saya, "Kita... kita, lo aja kaleh!" balas saya cemberut. Tapi dalam hati saya mengakui pengamatannya yang lumayan lah! Sedikit lebih pintar dari para pengamat politik di televisi, yang kebanyakan "imbisil" (jangan marah bang!)

Terus apa seh kelebihan mas Prabowo saat ini dalam menghadapi lawan-lawannya dalam pertarungan pilpres 2009 ini? tanya saya dan kali ini saya pasang wajah begok saya supaya mas Entong mau lebih banyak mbocorin isi kepalanya yang memang sudah bocor itu.

"Mas Prabowo Subianto itu punya ilmu "malih rupa" yang sangat tinggi, sehingga dia bisa jadi Kuda Hitam. Kamu tahu nggak mas Prabowo itu hilang kabar beritanya untuk beberapa tahun, dan tiba-tiba non gol jadi kandidat presiden dari partai barunya, yang semula hanya berangkat dari sebuah gerakan kembalinya Indonesia Raya... Ngerti nggak?" tanyanya menegaskan yang kali ini dengan menutup moncongnya dengan tangan. Saya pun lagi-lagi ngangguk dan merasa tambah bodoh.

"Maksud kang Entong, Mas Prabowo itu bisa berubah jadi Kuda Hitam? Wah sakti banget dong!" tanya saya aneh, "Memang ada ilmu sakti kayak gitu, berubah wujud jadi kuda hitam?" dan Si Entong jatuh "gedubrak" di depan saya, dia nggak bisa ngomong lagi, pingsan kali.

Sambil menepuk-nepuk kepala teman dekat saya yang super itu, saya membisikkan kata, "Setahu saya neh Kang Entong, Prabowo itu dulunya memang sudah terkenal sakti di medan pertempuran, khususnya saat ia bertempur sebagai Sandi Yudha di Timor-Timur dan sempat membunuh presiden Fretilin, Nicolao Lobato. Beda dengan para jenderal pesaingnya, baik SBY maupun Wiranto yang disebut Jenderal "Teritorial" atau "Jenderal Sekolahan" yang juga para perwira yang lebih banyak di belakang meja."

Saya pun berusaha cari informasi tentang JK dalam melawan SBY di googling. Tapi itu nanti di tulisan saya yang berikutnya... mohon maklum dan sabar!

dikRizal

Senin, 01 Juni 2009

NO URUT PILPRES 2009 YANG SIMBOLIK?

SIAPA YANG DI KIRI, SIAPA YANG DI TENGAH & SIAPA YANG DI KANAN, TAU KAN, MAKSUD SAYA?


JAKARTA — Pasangan capres-cawapres Megawati Soekarnoputri dan Prabowo Subianto (Mega-Pro) mendapat nomor urut satu dalam pemilihan presiden yang akan berlangsung pada 9 Juli mendatang.

Sementara itu, capres Susilo Bambang Yudhoyono (SBY)-Boediono (Boedi) mendapat nomor dua, sedang kan Jusuf Kalla (JK) dan Wiranto (Win) mendapat nomor urut tiga.

Pengundian nomor urut dilakukan di ruang rapat pleno Gedung KPU lan tai dua Jakarta, Sabtu (30/5), disaksikan pimpinan dan anggota KPU ser ta pasangan capres-ca wa pres itu.

Ketiga pasangan itu saling bersalaman saat bertemu di gedung KPU. Yang menarik tatkala SBY bersalaman dengan Megawati. Pertemuan keduanya merupakan pertemuan pertama sejak SBY menjadi presiden.

Ketua KPU, Abdul Hafiz Anshary, setelah penetapan nomor urut itu, menjelaskan, empat ketentuan KPU menjelang pelaksanaan pilpres.

Pertama, dalam hal pasangan atau salah satu pasangan mundur maka parpol atau gabungan parpol, dilarang menarik calonnya atau pasangan calon yang ditetapkan.

Kedua, salah seorang dari calon atau pasangan calon dilarang mengundurkan diri terhitung sejak ditetapkan.

Ketiga, dalam hal parpol dan gabungan parpol menarik pasangan calon atau salah seorang pasangan calon, parpol atau gabungan parpol tidak dapat mengusulkan calon pengganti.

Dan, keempat, dalam hal pasangan calon atau salah seorang calon mengundurkan diri, parpol atau gabungan parpol tidak mengusulkan calon pengganti.

Sumber : Republika

Minggu, 31 Mei 2009

EKONOMI KERAKYATAN-NYA PRABOWO SUBIANTO

Prabowo:
Intinya adalah bagamana ekonomi suatu bangsa membawa kepada kesejahteraan rakyatnya

DI POSTING OLEH : EKO PRASTYO on Minggu, Mei 31, 2009


Kita tentu patut bersyukur bila kini media massa terutama televisi dapat marak menampilkan dan mengulas visi-misi dari paket2 pasangan Capres-Cawapres ini. Hal seperti ini tidak terbayangkan pada 15 tahun yang lalu, saat membicarakan ttg suksesi saja (istilah halus utk niat menjungkalkan Soeharto dari kursinya krn sudah terlalu membosankan), sepertinya dianggap tabu, pamali. Kini publik dapat menilai visi-misi orang yg akan mereka pilih sbg pemimpin nomer satu Republik ini, dari bbrp pilihan, lewat media televisi. Tentu kita patut bersyukur.

Dr banyak stasiun televisi yg menayangkan itu dg modelnya masing2, TVRI dg acara Dialog Aktual Plus juga menghadirkan capres/cawapres ini. Pada Kamis 28 Mei 2009 jam 22.00-23.00 WIB ditampilkanlah Prabowo Subianto, sedangkan pada pd Senin 1 Juni 2009 y.a.d, akan ditampilkan Boediono.

Pd saat menampilkan Prabowo ini, host didampingi oleh bbrp akademisi FE-UI a.l.: Prof. Sri Edi Swasono, Dr. Nina; dan Prof. Irwan dari Universitas Andalas. Berikut ringkasan yg sempat saya catat:

Pengantar pembuka, menampilkan opini pandangan thd acara ini (direkam sebelumnya), dr;

Firmanzah, PhD (Dekan FE UI): Apa yg mulai sering diungkapkan ttg wacana Ekonomi Kerakyatan selama ini kurang mendalam kajiannya. Memang perlu dipertemukan antara akademisi dengan politisi, shg bgmn nanti menjadi public policy yg realistis dapat diterapkan. Ekonomi global skrg saling terkait satu sama lain. Bgmn dg kajian ini nanti kita dapat mendudukkannya dalam konstelasi nasional, regional, internasional. Selanjutnya, Pendidikan Politik yg terkait dg isu-isu ekonomi dapat kita lakukan.

Prabowo Subianto:

DiTanya (T) host : Apa yg Anda maksudkan dg ‘ekonomi kerakyatan’?

Jawab Prabowo (J) : Intinya adl bgmn ekonomi suatu bangsa membawa kpd kesejahteraan rakyatnya. Visi-Misi saya ini telah muncul saya mulai sejak th. 97-98 saat ekonomi kita mengalami crash, mengalami krisis; padahal kita ingat benar pd th. 1997 World Bank me-muji2 Indonesia. Saat krisis itu nilai rupiah hancur, dr awalnya 2.000/US$ menjadi 15.000/US$, merosot 7 x lipat.

Dilihat dr neraca ekspor-impor, ssungguhnya sbg bangsa kita untung. Kalo demikian, kalo sbg bangsa kita untung, kok kita alami krisis? Trnyata, … pd 1997-1998 itu, neraca untung 25 miliar US$/tahun. Selama 12 tahun. Seharusnya devisa 300 miliar US$. Ttp mngapa dr laporan yg dirilis BI tak lebih banyak dari 60 miliar US$? Ini karena kita tidak mampu menjaga kekayaan alam yg ada di negeri kita.

Dlm hal pilihan kebijakan ekonomi, saya tidak mempermasalahkan istilah, apakah itu neo-liberal, neo-klasikal; … tapi ubahlah. Saya sudah membaca tulisan2 dr Pak Edi Swasono, Pak Mubyarto. Pasal 33 UUD ’45 itu sudah kita tinggalkan berapa puluh tahun?

(T) : Bgmn caranya?

(J) : Kita lihat mana sektor di mana Indonesia masih punya keunggulan? = Pertanian! Wilayah kita ini adl 1/3 zona tropis dunia. 11% dr 33% zona tropis dunia. Kita dapat panen 2-3 kali setahun. Air hujan sepanjang tahun. Masalah mendasar = kemiskinan. Sektor pertanian paling banyak dan cepat menyerap Tenaga Kerja dan memperoleh nilai tambah kembali. Beras 120 hari. Jagung 95 hari. Bisa cepat dapat keuntungan. Kita masih punya lahan. Justru kita punya 59 juta ha hutan yg rusak, diubah mjd lahan produktif. Dr prtanian bisa swasembada energi, bio-fuel; bisa jadi penyuplai dunia, net-eksporter utk dunia.

Dr. Nina (FE UI) : Ini kebijakan yg menarik. Dlm hal kebijakan pertanian, dibanding kebijakan pemerintah sekarang, perbedaannya di mana?

Prabowo : Pd pemerintah skrg, APBN kita tahun ini Rp 1000 triliun (=100 miliar US$), hanya 1,6 % utk sektor pertanian. 1,6 % saja! Ini jelas bukan pro-poor. Padahal pemerintah juga mengalokasikan stimulus Rp 37 triliun utk hadapi krisis global, dan yg diberi adalah perusahaan2 besar. … Kita dapat lihat bukankah Kebijakan a.l. dicerminkan oleh anggaran2, proyek2? Tapi apa yg terjadi? Memberi kredit utk bikin apartemen mewah. Ini bukan ekonomi kerakyatan.

BRI memiliki 32 triliun; masih membiayai apartemen2 mewah. Ini tidak berpihak kpd ekonomi kerakyatan. Ini ketidak-adilan sistemik.

Prof. Irwan (Univ. Andalas) :

Kalau menyimak paparan tadi, betapa terlihat utk niat sudah adil dan makmur secepat mungkin. Kita lihat Thailand, di sana ada Thai Farmer Bank yg benar2 mengurusi petani. Apakah mau dibuat plat khusus utk itu? … Slama ini mmg terlalu banyak beban bagi rakyat bila mau pinjam duit. Mereka tak punya pengetahuan dan akses ttg itu. … Lalu juga Produksi mau dikemanakan, kalau memang subur? Ini mmg visi bahwa bgmn menciptakan titik tumbuh tidak hanya di Jakarta, bagaimana? Slama ini masih yg terjadi adl APBN masih menanggung APBD. Nasional masih menanggung daerah. Nah visinya, harapannya di masa depan nanti, Daerah-lah yg justru kasih makan Presiden. APBD beri makan APBN. Bgmn caranya ini?

Prabowo : Dulu BRI itu bank koperasi tani dan nelayan, itu dulunya BRI. Tapi kini pemimpin2 bank lupa akan tanggung-jawabnya. … Mau dibuat apa jagung? Lha Pemerintah harus ikut terjun, ikut intervensi! Kalo neo-klasikal itu = pemerintah nonton saja, jadi wasit saja. Neo-liberal = semua akan diatur dikoreksi oleh pasar = invisible-hand. Apa invisible-hand ini?Tangan hantu? (audience tertawa) Diserahkan kpd tangan yg tak terlihat? Dulu kita punya Bulog, koperasi2, KUD2, .. jangan dibubarkan semua. Dulu belum bagus, tapi perlu diperbaiki, bukannya dibubarkan. Pemerintah memberikan dukungan kpd dukungan2 politis. Kini kita masih impor singkong! Garam saja masih impor. Pemerintah harus intervensi. Pemerintah jangan hanya jadi wasit.

Pemerataannya?:

Janganlah lembaga2 keuangan beri perhatian kpd sektor2 mewah. Pd saat crash, kita ingat yg menopang adalah ekonomi rakyat. Pengusaha besar ngemplang hutang semua.

Prof. Edi: Neo-liberalisme= menggusur orang miskin. Ekonomi sekarang memang demikian. Mall baru akan menggusur ekonomi tradisional. Di mana2 skrg ada Carrefour, menggasak retail2 kita, mengaku bukan neo-liberal, tp penggusuran orang miskin jalan terus.

No. 1: Sbg Ketua Asosiasi Pedagang Pasar, bgmn? Bgmn tjd penggusuran? … HKTI juga? Apa scr sistematis jabatan2 itu disiapkan? (audience tertawa) … maksud saya, kalau memang disiapkan, itu ‘kan baik?

No. 2: Bank mengenakan bunga. Pdhal ciri org miskin = tak bisa mbayar bunga. Jaminan? Orang miskin tak bisa memberi jaminan. Apakah dg demikian UU Perbankan akan Anda rubah?

Prabowo: Di HKTI itu saya diminta jadi Ketua Umum. Kita sudah melakukan bbrp advokasi, dan sudah pengaruhi bbrp kebijakan. Tapi utk Pupuk mmg belum. Sdg-kan di Asosiasi Pedagang Pasar Tradisional. Saya kaget (saat ada yg mengajukan/mengusulkan dirinya menjadi Ketua –pengutip). Kok saya? Ternyata, pada waktu-waktu akhir ini sudah kejadian setiap minggu satu pasar terbakar. Mereka bilang: “Pak, itu bukan terbakar. Itu dibakar.” Setiap minggu satu pasar terbakar. Setiap habis, datang developer kembangkan pasar baru. Kmd dibangunlah pasar baru, … harga sudah tidak terbayar! Di blok M harganya per meter lebih mahal drpd Orchard Road, bahkan drpd New York! Ini menunjukkan tidak adanya keberpihakan dari pemimpin2 utk membela rakyatnya sendiri. Saya terjun ini krn mmg didesak oleh mereka yg jadi anggota APPSI dan HKTI. Mereka bilang: “Kalo kita tak masuk, kita selalu dirugikan terus, pak. Kalo kita tak masuk.”

… UU Perbankan? Kalo bank2 pemerintah itu di bawah eksekutif, Dirut2nya bisa dipanggil. …. Tepuk tangannya di sini (sahut Prof Edi).

Kebijakan perbankan?

Bank2 pemerintah itu dg kehendak politik, direksi diberi mission yg jelas. Dalam hal micro-financing itu, sesungguhnya bukan Bangladesh yg memulai. Kita (/BRI?) dulu pernah Ttg UU itu; kita akan kumpulkan ahli2, prof. … Dg kehendak politik, kita bisa larang jg beri lagi kredit utk proyek2 bangun mewah2.

Sulastri Surono (FE-UI) : Hutan kita 59 juta ha mau ditanami bio-etanol? Utk itu butuh anggaran. Bgmn kita akan membayar hutang? Akan mengemplang-kah? Argentina pd 2001 tidak membayar hutang…. … Bgmn pertumbuhan ekonomi double digit?

Prabowo : Dalam praktek dagang ya, sesungguhnya sangat lazim, minta dijadwalkan kembali itu. Begitu dalam praktek dagang. Tak ada alasan utk tidak re-schedule of doubt-payment. Sbg contoh, th. 2009 ini kita harus bayar hutang 10 miliar US$ (Rp 95 triliun) utk pokok dan bunganya. Bgmn kalo bayarnya itu 5 tahun lagi atau 10 tahun lagi. Ini dapat utk investasi itu. Dlm waktu sekian tahun kita dapat bayar utang, krn kita dapat nilai tambah. 1ha = 19-20 ton etanol per tahun. Aren hutan produksi. 80 juta ton etanol itu equivalen dg … BBM.

Edi Swasono : Ada satu catatan, pak. Ada utang IMF yg memang jangan dibayar, krn kesalahan IMF; terdikte oleh IMF. Kalo itu kesalahan IMF, ngapain dibayar?

Dibuka pertanyaan dr floor audience yg hadir di studio:

Nining Susilo (Kepala UKM Centre FE-UI)

Saya mengurusi 48 debitur, pengusaha mikro kecil. 10 dalam skala Grameen Bank. Bgmn kami menangani orang miskin ini. Ekonomi kerakyatan itu bahasanya nurani, menangani orang kecil.

Jangan salah (,pak Edi). Orang kecil itu mampu membayar suku bunga! Ciptakanlah orang miskin punya bank sendiri.

Prabowo: Itulah arahnya, orang miskin mampu bayar. Betapa multiplier-efffect yg dapat dicapai dari itu.

Edi: Memang orang kecil kan tidak punya jaminan. Pasal mengenai jaminan harus diamandemen.

Prof. Irwan : Rakyat ini ada di desa dan daerah. Yg paling dekat dg rakyat adalah Bupati, atau Gubernur; Camat dsb. Apakah Prabowo akan meng-otak-atik UU Otonomi . Mau diatur semua dari Pusat?

Prabowo : Tentu tidak. Tapi kita perlu efisiensi uang rakyat. Kita tak mau lagi ke ekonomi sentralistis. Uang yg digunakan pemerintah jangan malu dipertanyakan; itu uang di mana dipergunakan? BUMN harus digunakan sbg lokomotif, bukan dijual, bukan diprivatisasi.

Ada yg terlupa dr Bu Sulastri ttg dua digit tadi: Ini sekarang jadi polemik. Awalnya… saya tercengang saat Januari lalu mendapat kajian dari badan riset luar negeri ttg GDP Indonesia; kalau 1 digit, masih jauh GDP 200 dolar itu. Kenapa kok kita puas dg sasaran satu digit? Kita akan menerima vonis, masih miskin 50 tahun lagi. Apa ini yg kita mau setelah 100 tahun merdeka? Kita biasa utk dialog, dg ahli ekonomi? Mau diskusi? Saya siap. Saya yakin itu tidak mustahil.

(Edi): Ini karena tidak dayagunakan resources-base lokal, they don’t transform ‘beban’ menjadi ‘asset’? Bgmn caranya?

Prabowo: Saat saya jadi tentara, kita mendapat falsafah : Tidak ada prajurit yg jelek, yg ada hanya komandan2 yg jelek. Kita harus berpihak kpd bangsa sendiri.

Host memberikan kesempatan kpd Dr. Nina utk memberikan penilaian

Dr. Nina: Kendala: kita sesungguhnya sudah termasuk berpendapatan menengah. Tp kendala. Dg strategi yg dikemukakan: pertanian, pro-poor, ke mikro; itu. Ada 2 kemungkinan. Bisa tidak penting-lah pertumbuhan itu, krn yag penting adl penyediaan lapangan kerja. Saya tanya: Shift kalo target ini (pertumbuhan-peng.) tak tercapai bgmn? BUMN menjadi motor, seperti apa? Tak hanya pro-poor, engine-nya itu?

Prabowo:

Saya termasuk sangat keras menentang penjualan2 BUMN. Saya ada mendengar akan ada Privatisasi lagi 33 -35 BUMN? Tapi krn ini menjelang Pemilu lalu agak dirobah? (audience tertawa) Ini saya tentang. Dr sudut pandang yg saya yakini: ekonomi suatu bangsa, survival bangsa itu? Kalo dijual, berarti tidak punya pertahanan ekonomi lagi. Kita akan telanjang. BUMN ini pencetak uang yg sangat banyak. Di Singapore itu 70% adl BUMN. BUMN mjd motor=lokomotif. China, India, … Perancis. Kalo PLN di-swasta-kan, bayangkan! Kini pelabuhan2 mulai dikuasai oleh swasta asing . Ini membahayakan.

Prof. Irwan : Jarang paralel; pertumbuhan dengan pemerataan itu. Kalo mengejar pertumbuhan, pemerataan tertinggal. Pertumbuhan = investasi. Investasi = pebisnis kelas kakap. Bgmn ini agar konsisten?

Prabowo : Yg menciptakan lapangan kerja banyak! Bukan pertumbuhan akan membebankan pemerataan. Kalau itu, pertumbuhan dg kerangka pertumbuhan neo-klasikal – neo-liberal. Tapi kalo kita, kita akan gunakan BUMN utk mendorong. Kalo investor2 asing melihat, tertarik, kalo dr luar ya monggo. Uang rakyat tidak akan kita lepas. Invisible hand? ….

Realistis-kah ini? Saya bukan hanya asal … e.. njeplak, ya. Sudah satu tahun lebih ini saya kumpulkan kelompok pemikir. Mengkaji rekomendasi2. Kalo ada waktu 3,5 jam saya akan siap siap bertemu dg ahli2, …. tentu saja saya juga didampingi dg ahli2 yg mendukung. (audience tertawa).

Prof. Edi: Pesan utk Pak Prabowo, kalo terpilih, hati2lah memilih anak buah. Yg punya hobi menjual itu anak buahnya. Hati2 memilih anak-buah.

….

Begitulah yang sempat saya catat. Tentu Anda yg tahu banyak ilmu ekonomi dapat menilainya jauh lebih baik drpd saya. Kalo saya sih, catatan di atas menarik karena ada yang membuka wawasan saya. Tentang benar-tepat atau tidaknya dari segi keilmuan, realistis atau tidaknya; tentu saja saya tidak tahu. Anda yang lebih tahu saya mohon komentarnya.

Kutipan: THE NURDAYAT FOUNDATION

JALAN TERJAL SBY-BUDIONO

Politik Bukanlah Matematika.
Satu Tambah Satu Sama dengan Dua


syair79.wordpress.com

SBY akan mengambil Boediono sebagai pendamping. Gubernur Bank Indonesia (BI) itu dianggap tepat menjadi cawapres. Dia hebat ‘hitung-menghitung’, bersih, dan berasal dari profesional. Boediono, di tengah banyaknya cawapres yang diajukan partai politik klan koalisi, memang merupakan jawaban yang pas.

Kalau diamati, nama Boediono muncul melalui proses seleksi ‘bumi hangus’ partai politik mitra koalisi. Itu karena PKS mengajukan Hidayat Nur Wahid untuk posisi cawapres, PAN ‘versi Amien Rais’ memajukan Hatta Rajasa, dan PKB menampilkan Muhaimin Iskandar. Uniknya, ketiganya dianggap tidak ideal. Itu karena semua menyimpan masalah. Masalah internal !

Sedang Partai Golkar pasca ‘perceraian’ SBY dengan JK, membuka ruang bagi Akbar Tandjung dan Aburizal Bakrie memajukan diri sebagai cawapres SBY. Ini sampai detik terakhir masih menyisakan Akbar Tandjung, dikocok bersama Boediono, Hatta Rajasa, dan Hidayat Nur Wahid.

Namun di last minutes ternyata pilihan jatuh ke Boediono. Pilihan moderat, agar tidak ‘menyakiti’ partai yang berkoalisi. Kabar yang hampir pasti itu menurut rencana dideklarasikan hari Jumat. Hari yang bakal terbuka goro-goro. Keributan panjang sampai masa contrengan pilihan presiden tiba.

Politik bukanlah matematika. Satu tambah satu sama dengan dua. Politik itu cara, seni kalkulasi. Kalau diangkakan mirip rumus toto gelap (togel). Angka pasti menjadi tidak pasti, tapi yang tidak pasti berubah jadi pasti. Itu karena ada angka mistik, angka penjumlahan, juga angka setan.

Boediono adalah angka pasti. Dia hebat dalam bidang ekonomi. Akurasi hitungan sangat jempolan. Dia bersih dari rumor pat-gulipat uang. Dan tidak banyak omong dalam berbagai persoalan. Dia memang figur bagus dari sisi bibit, bobot dan bebet. Bersih, loyal, teguh pendirian, sehingga ‘ya’ dan ‘tidak’ menjadi terang benderang di tangan dia. Bukan abu-abu.

Bagi bangsa ini, Boediono adalah salah satu aset langka. Dia bak Baharudin Lopa. Dan bagi saya tidak jauh dengan Sri Mulyani, Kapolri lama dan Kapolri kini, juga Hendarman Supanji. Tapi tokoh macam itu tidak bisa disamakan dengan sosok idaman untuk jabatan pucuk pimpinan. Sebab mereka bukan ‘pemain’. Mereka rentan digoyang dan ‘didiskreditkan’.

Karakter SBY sebenarnya tidaklah jauh dari Boediono. Karakter macam ini selain idealistis, juga punya kelemahan yang mendasar. Gampang diseret dalam polemik murahan dan kuping tipis. Disindir menyindir, dipancing terpancing. Hanya karena kebijakan politiknya bermanfaat bagi rakyat dan didampingi JK yang ‘nyinyir’, maka ‘kelemahan’ SBY tertutup dan tampil sebagai sosok yang diidolakan.

Namun jika SBY didampingi tokoh yang berkarakter sama, maka bukan kekuatan yang kelak akan tampil. Justru ‘kebaikan’ keduanya bakal melahirkan ketidakbaikan. Sebab bak main bola, keduanya akan defensif menghadapi serbuan dari lawan-lawan politiknya, terutama di parlemen. Tidak ada counter attack yang bisa dilakukan. Kalaulah ada, maka itu cenderung menyulut situasi yang chaostis.

Kenapa begitu? Karena iklim politik negeri ini masih hantam kromo. Rumor dan fitnah dianggap biasa. Intrik dan sindir-menyindir dianggap lumrah. Itu pula mengapa politik devide et impera gampang dirancang dan didistribusikan, karena kepentingannya mudah dicerna, money oriented.

Memang betul, gandeng siapa saja SBY diprediksi bakal menang. Tapi kemenangan itu rasanya bakal sangat menyakitkan jika segala kebijakan nanti terlalu dikritisi. Diteror dan dinegasikan.

Menurut saya, harusnya bukan Boediono yang diambil. Sosok yang paling cocok untuk menghadapi situasi ke depan adalah Akbar Tandjung. Tokoh ini mampu masuk ke berbagai lini, dan punya kekuatan untuk memecah suara Golkar. Dia bisa jadi martir agar dacin pemerintahan yang diramal bakal terus-terusan digoyang berjalan seimbang.

Benarkah SBY bakal pilih Boediono untuk pendamping? Kalau iya, mari kita lihat sama-sama, seberapa kekuatan SBY dan Partai Demokrat dalam menghadapi ‘teror parlemen’ jika kelak betul menang.

Selasa, 26 Mei 2009

Kesalahan Istikharah SBY dalam Memilih Cawapres Boediono

SBY, Jangan Main-main dengan Istikharah!

Baru-baru ini aku membaca gugatan dua orang blogger mengenai istikharahnya SBY dalam memilih cawapres Boediono. Blogger pertama (nirwansyahputra) langsung menegur, “SBY, Jangan Main-main dengan Istikharah!” Blogger kedua (nusantaraku) mempertanyakan, “Dan apakah sosok ekonom seperti Boediono memang merupakan pilihan Tuhan untuk memimpin negeri ini? Apakah Tuhan memang memilih sosok ekonom yang enggan membantu rakyat kecil disisi lain senang membantu pengusaha kaya? Atau sebaliknya, “istikharah” hanyalah kedok politik atas nama Agama?

Kedua blogger tersebut menggunakan sudut pandang logika dalam analisis mereka. Di sini, aku hendak menggunakan sudut pandang agama Islam. Kebetulan, masalah istikharah bukanlah perkara yang asing bagiku. (Selama ini, ada dua buku karyaku mengenai istikharah, yaitu Rahasia Sholat Istikharah dan Istikharah Cinta.)

Pertanyaan yang hendak kujawab dalam postingan ini adalah: Apakah dalam memilih Boediono sebagai cawapres, SBY sudah melakukan istikharah sesuai dengan ajaran agama Islam? Kalau belum sesuai, di manakah letak kesalahannya atau kekurangsempurnaannya?

An-Nawawi menjelaskan, “Disunahkan untuk bermusyawarah sebelum melakukan istikharah.” (Al-Mausu’ah al-Kuwaitiyyah, 3/243) Salah satu dalilnya, Allah SWT berfirman: “Bermusyawarahlah dengan mereka dalam urusan itu. Kemudian apabila engkau telah mengambil keputusan [seusai musyawarah dan istikharah], maka bertawakkallah kepada Allah.” (QS Ali ‘Imran: 159)

Pada kenyataannya, dalam menetapkan pilihan Boediono sebagai cawapres, SBY tidak bermusyawarah lebih dulu dengan partai-partai pendukung koalisinya. SBY hanya menyampaikan informasi setelah keputusan itu beliau ambil. (Lihat “Empat Parpol Koalisi Merasa Tak Diajak Bicara“.)

Tidak bermusyawarah lebih dulu itulah salah satu kesalahan atau kekurangsempurnaan istikharahnya SBY dalam memilih Boediono sebagai cawapresnya. Jadi, istikharah yang beliau lakukan itu belum sepenuhnya sesuai dengan ajaran Islam.

Wallaahu a’lam.

Senin, 18 Mei 2009

Deklarasi Mega-Pro 24 Mei di Bantar Gebang

May 18, 2009 by pemiluindonesia.com

Megawati - Prabowo

Deklarasi pasangan capres Megawati Soekarnoputri dan Prabowo Subianto dijadwalkan pada tanggal 24 Mei mendatang di kawasan Bantar Gebang, Bekasi, Jawa Barat. Hal itu dikatakan Tim Media Badan Pemenangan Pemilihan Presiden (BP Pilpres) PDI Perjuangan, Ganjar Pranowo, Senin (18/5) di kediaman Megawati, Jalan Teuku Umar, Jakarta Pusat.

Deklarasi dijadwalkan 24 Mei di Bantar Gebang jam 2 siang,” kata Ganjar.

Bantar Gebang dikenal sebagai kawasan tempat pembuangan akhir (TPA) sampah dari berbagai daerah di seputaran Jabotabek. Menurut rencana, deklarasi dimulai pukul 14.00-16.00. Deklarasi ini akan diikuti oleh rakyat yang menjadi simpatisan pendukung partai pengusung pasangan tersebut. Partai-partai yang akan menjadi tuan rumah adalah PDI Perjuangan, Gerindra, Partai Karya Perjuangan, Partai Kedaulatan, Partai Buruh, Partai Merdeka, PPNU, PSI, dan PIS.

Pasangan Mega-Prabowo merupakan satu-satunya pasangan yang belum melakukan deklarasi formal seperti halnya dua petarung lain, yakni SBY-Boediono dan JK-Wiranto. Pasangan ini sejak semula menyatakan akan mendeklarasikan diri di tengah perkampungan.

Sumber : KOMPAS.com Inggried Dwi Wedhaswary


Rabu, 13 Mei 2009

Isu Boediono Mulai Makan Korban


INILAH.COM, Jakarta – Maraknya kabar bahwa Boediono terpilih sebagai cawapres SBY, mulai memakan korban di tubuh koalisi Blok Cikeas. PAN,PKS,PKB, dan PP menghadapi konflik dan gesekan internal. Pro-kontra di tubuh partai-partai Islam itu jadi bukti adanya korban dari masuknya Boediono ke Cikeas.

Tak hanya itu. Isu Gubernur Bank Indonesia itu mulai menimbulkan reaksi garang dan ganas di kalangan satpam Bank Indonesia. Buktinya, reporter stasiun televisi SCTV, Carlos Pardede, ditanduk petugas keamanan Gedung BI saat hendak melakukan peliputan di kawasan bank sentral itu, Rabu (13/5). Pelipis Carlos pecah dan berdarah.

(Sidik Rizal: Ini mah memang benar bila Boediono beresiko, yah tapi begitulah politik bisa merubah orang dalam sekejap. Atau orang yang mengubah politik dalam sekejap?)

Pagi itu Carlos dan sopir, Borjiman, datang ke Gedung BI. Mereka bermaksud mencari kesempatan mewawancarai Gubernur BI Boediono yang dipastikan dipinang Susilo Bambang Yudhoyono menjadi cawapres.

Saat tiba di pintu gerbang BI, seorang petugas keamanan memberhentikan mereka. Dengan bentakan yang terdengar arogan, petugas bertanya maksud kedatangan Carlos dan kawannya. Carlos bilang bahwa mereka hendak menemui seorang narasumber di BI. Menengar jawaban Carlos, petugas keamanan pun langsung mengusir sang reporter.

Mendengar suara petugas keamanan yang membentak-bentak, Carlos pun turun dari mobil dan meminta petugas berbicara dengan cara lebih sopan kepada tamu. Adu mulut pun terjadi. Tiba-tiba seorang petugas keamanan lain bernama Marlon menghampiri Carlos dan menandukkan kepalanya ke wajah Carlos. Pelipis Carlos pecah dan berdarah.

Menghadapi arogansi satpam BI ini, Aliansi Jurnalistik Indonesia (AJI) bereaksi keras. Mereka mengecam aksi kekerasan yang dilakukan petugas keamanan Gedun BI terhadap seorang jurnalis televise dari SCTV itu.

Ketua AJI Jakarta Nezar Patria, menyatakan, ulah satpam BI itu jelas bertentangan dengan UU Pers yang memberikan hak kepada wartawan untuk melakukan liputan di mana pun dalam rangka melayani hak masyarakat untuk tahu. Tentang kasus ini, Nezar yakin, apa yang dilakukan Marlon sudah melewati batas kewajaran.

"Tindakan satpam BI itu berlebihan. Kalau memang ada pelarangan, itu bisa disampaikan dengan cara yang lebih baik, tanpa kekerasan," kata Nezar.

AJI berharap, lembaga otoritas moneter itu tidak overacting, meskipun salah satu pimpinannya telah dipinang untuk menjadi calon kuat wakil presiden Indonesia. Bagaimana pun BI sebagai otoritas moneter menjadi wilayah yang tak kebal aturan.

Para jurnalis bergegas melaporkan ke polisi. Kepala Polres Jakarta Pusat Kombes (Pol) Ike Edwin menjanjikan bakal menindaklanjuti laporan dari pekerja pers tersebut.

Pelaku penandukan terhadap wartawan stasiun televisi SCTV, Carlos Pardede, pun terancam Pasal 351 KUHP soal penganiayaan. Berdasarkan ketentuan Pasal 351, petugas keamanan yang bernama Marlon ini terancam hukuman pidana penjara paling lama lima tahun enam bulan.

Sungguh, kekerasan adalah bukti kebiadaban! [P1]

PKB Solid Sokong SBY-Boediono

INILAH.COM, Jakarta - Penolakan cawapres Boediono hampir terjadi di internal parpol pengusung SBY. Tak terkecuali PKB. Namun, PKB memastikan tetap mendukung duet SBY-Boediono.

"Tidak ada yang menolak, kita masih solid. DPW solid dengan DPP PKB," ujar Wasekjen PKB, Helmi Faisal Zaini dalam perbincangannya dengan INILAH.COM di Jakarta, Rabu (13/5).

PKB, dikatakan dia, memaklumi jika ada beberapa kader yang menolak pencalonan Gubernur Bank Sentral itu menjadi pendamping SBY. Apalagi, penolakan itu dikarenakan masih memegang komitmen mengusung Ketua Umum PKB Muhaimin Iskandar.

"Bahwa mereka mengajukan Pak Muhaimin kemarin itukan hasil Muspimnas. Tapi pada hasilnya PKB kan harus ikut dalam koalisi," terangnya.

Mengenai penolakan mantan Menko Perekonomian itu karena paham kejawennya, Helmi menolak berkomentar. Sebab, pernyataan tersebut terlalu bersifat subyektif, tanpa mengadalkan obyektifitas.

"Sejauh integritas moral dan visi kemanusian tidak ada masalah. Tidak selalu benar tuduhan itu," jelasnya.

Dituturkan dia, pertemuan yang dilakukan hari ini di DPP hanya sebatas pertemuan biasa. Yakni, Muhaimin hanya melaporkan perkembangan terakhir seputar koalisi dengan Partai Demokrat.

"Teman-teman DPW bersilaturrahmi dengan Ketua Umum. Agendanya lebih menyampaikan perkembangan mutakhir politik terkini," tandasnya. [jib/ana]

Senin, 20 April 2009

Penghitungan Suara di Bekasi, Demokrat dan PKS Unggul

Sumber:
Kelik Prakosa
Senin, 20/04/2009 08:30 WIB
beritabaru.com/

Bekasi, beritabaru.com - Partai Demokrat dan Partai Keadilan Sejahtera sementara memimpin dalam perolehan suara DPR-RI untuk daerah pemilihan(DP) VI kota Bekasi dan kabupaten Bekasi.

Untuk dua kecamatan di kota Bekasi setelah diselesaikan pleno perhitungan suara yaitu Pondok Melati dan Medan Satria pada Minggu (19/4) malam.

Ketua KPU kota Bekasi, Hendi Irawan mengatakan, Partai Demokrat memperoleh suara sebanyak 35.756, diikuti PKS sebanyak 20.557 suara.

Untuk caleg dengan suara terbanyak diraih Mahfudz Abdurrahman dari PKS dengan 6.358 suara, diikuti Sukur Nababan dari PDIP sebanyak 6.087 suara.

Lalu, Parlindungan Hutabarat sebanyak 3.722 suara dan Fariani Sugiharto sebanyak 3.451 suara, di mana keduanya dari Demokrat.

Urutan selanjutnya, diikuti PDI-P dengan 16.055 suara dan Partai Golkar sebanyak 7.660 suara.

Sementara itu, caleg partai Golkar yang meraih suara terbanyak adalah Zulkarnain Djabar dengan perolehan 2.426 suara.

Jumlah suara yang sah sebesar 112.412 dan suara tidak sah sebanyak 9.398. Perolehan suara berdasarkan nomor urut partai, yaitu Partai Hati Nurani Rakyat sebanyak 2.418 suara. Partai Karya Peduli Bangsa sebanyak 464 suara. Partai Pengusaha dan Pekerja Indonesia sebanyak 256 suara.

Partai Peduli Rakyat Nasional sebanyak 352 suara. Partai Gerakan Indonesia Raya sebanyak 5.597 suara. Partai Barisan Nasional sebanyak 251. Partai Keadilan dan Persatuan Indonesia sebanyak 382 suara. Partai Keadilan Sejahtera sebanyak 20.557 suara. Partai Amanat Nasional sebanyak 4.690 suara. Partai Perjuangan Indonesia Baru nol suara. Partai Kedaulatan sebanyak 119 suara.

Partai Persatuan Daerah sebanyak 64 suara. Partai Kebangkitan Bangsa sebanyak 1.055 suara. Partai Pemuda Indonesia sebanyak 148 suara. Partai Nasional Indonesia Marhaenisme sebanyak 56 suara.
Partai Demokrasi Pembaharuan sebanyak 336 suara. Partai Karya Perjuangan sebanyak 94 suara.

Partai Matahari Bangsa sebanyak 216 suara. Partai Penegak Demokrasi Indonesia sebanyak 50 suara. Partai Demokrasi Kebangsaan sebanyak 371 suara. Partai Republika Nusantara sebanyak 474 suara. Partai Pelopor sebanyak 67 suara.

Partai Golongan Karya sebanyak 7.660 suara. Partai Persatuan Pembangunan sebanyak 7.580 suara. Partai Damai Sejahtera sebanyak 4.410 suara. Partai Nasional Benteng Kerakyatan Indonesia sebanyak 123 suara.

Partai Bulan Bintang sebanyak 756 suara. Partai Demokrasi Indonesia Perjuangan sebanyak 16.055 suara. Partai Bintang Reformasi sebanyak 187 suara. Partai Patriot sebanyak 281 suara. Partai Demokrat sebanyak 35.756 suara. Partai Kasih Demokrasi Indonesia sebanyak 450 suara.

Partai Indonesia Sejahtera sebanyak 143 suara. Partai Kebangkitan Nasional Ulama sebanyak 310 suara. Partai Merdeka sebanyak 26 suara. Partai Persatuan Nahdlatul Ummah sebanyak 52 suara. Partai Sarikat Indonesia sebanyak 42 suara. Partai Buruh sebanyak 133 suara. (*)

Kamis, 16 April 2009

GOR KOTA BEKASI KEMBALI MENGUNING

Laporan dari Kampanye Terbuka Putaran Terakhir Partai GOLKAR


Bekasi, dobeldobel dot com
GOR kembali menguning saat kampanye terbuka putaran akhir bagi Partai Golkar ini dilaksanakan. Perhelatan besar yang mengundang massa kader partai berlambang phon beringin ini hampir membludak berjumalah tak kurang dari puluhan ribu orang yang hadir.

Acara kampanye terbuka partai besar yang sebelumnya juga diselenggarakan di Gedung Olah Raga Kota Bekasi ini, kali ini mengundang langsung Ketua Umum, Jusuf Kalla. Bila pada kampanye terbuka putaran pertama Bappilu DPD Golkar Kota Bekasi berhasil menghadirkan Prof. Dr. Muladi,SH. maka perhelatan Minggu, 5 April 2009 ini suasana semakin kental dengan kehadiran sang Wakil Presiden yang tengah cuti ini.

Menurut H. Aartje Loppies, caleg DPR RI dapil Kota Bekasi dan Kota Depok sekaligus pemrakarsa pesta akbar di Kota Bekasi, Ketua Umum Jusuf Kalla, benar-benar sangat susah untuk meluangkan waktunya untuk berorasi politik di daerah-daerah. Tapi berkat usaha dan jerih payahnya meyakinkan DPP, maka agenda acara Yusuf Kalla bisa dipindahkan untuk berkampanye secara langsung kepada para pendukungnya di Kota Bekasi, sekalipun harus mengorbankan DPD-DPD lainnya. Itupun Yusuf Kalla hanya bisa hadir dalam waktu singkat, sehingga usai acara akbar tersebut, JK dan beberapa pengurus DPP kembali meluncur ke Bogor.

Dalam acara yang terbilang cukup besar itu karena dimeriahi Asep Idol dan artis ibukota dengan panggung raksasa senilai 50jt rupiah itu, sistem pengamanan yang sangat protokoler tak mengurangi kemeriahan pesta demokrasi. Apalagi para pengunjung yang lumayan tertib, sekalipun dalam cuaca terik panas matahari mereka sempat berteriak minta disiram air. Maka satuan unit pemadam kebakaran menyemprotkan setengah ton air ke tengah kerumunan massa pendukung Golkar di depan panggung selama pertunjukan musik berlangsung.

Acara yang dipimpin oleh MC, Jejen, komedian televisi ini memang terasa kental dengan nuansa kuning. Bahkan para artis yang beberapa orang berbalut busana berwarna putih sepertinya lenyap dalam warna dominan kuning tata layout panggung yang backdropnya bergambar sang calon presiden partai Golkar, Jusuf Kalla dan Wakil Walikota Kota Bekasi, H. Rustam Effendi, S.Sos, MM. Acara itu sangat padat dihadiri para caleg dan petinggi partai Golkar bahkan juga dari DPW Jabar sempat hadir, karena kapan lagi waktunya bertemu dengan Ketua Umum dan juga Wakil Presiden RI seumur hidup? tukas H. Aartje Loppies.

H. Zulkarnaen Jabar, caleg DPR RI no.1 dapil Kota Bekasi dan Kota Depok yang juga hadir di tengah acara tersebut, tampak asik berjoget saat pertunjukan musik berlangsung menanti kedatangan sang Ketua Umum. Para caleg dan tokoh Partai Golkar yang hadir lainnya diperkenalkan oleh H. Rustam Effendi, SSos, MM, Ketua DPD Golkar Kota Bekasi, setelah ia berorasi membakar semangat dengan gaya khasnya mengangkat sebelah tangan ke atas. Wakil Walikota yang akrab dipanggil Bang Pepen ini memang khusus hadir dalam acara ini, yakni dengan mengendarai motor gedenya Harley Davidson bernomor seri L, dan membonceng istrinya.

Saat pembukaan acara bang Pepen memperkenalkan para calon anggota dewan mulai dari H. Zulkarnaen Jabar, H. Aartje Loppies, Dra. Hj. Tatti Ruswartati dan caleg DPRD Provinsi seperti H. Dr. Agus Suparman, SE. kemudian juga caleg DPRD Kota Bekasi, seperti H. Yusuf Nasih, SSos, MM yang juga Ketua DPRD Kota Bekasi.

Kampanye terbuka kedua ini terbilang berjalan sukses dan lancar, dengan diawasi satuan brimob Polres Metro Kota Bekasi dan beberapa ormas underbow Golkar seperti AMPG. Bahkan sempat pula hadir ormas seperti FBR (Forum Betawi Rempug), yang sempat hendak menerobos masuk karena keinginan mereka mengamankan panggung dan kehadiran sang wapres, Jusuf Kalla.

H. Yusuf Nasih, Caleg DPRD Kota Bekasi berkomentar saat di tengah acara berlangsung, "Acara ini memang dikawal dengan cukup ketat, seperti yang anda lihat kan di pintu masuknya itu!" ujarnya menunjukkan pintu masuk yang dijaga beberapa satuan khusus pengamanan dari Paswalpres dan Satuan Khusus Pengamanan Walikota yang berpakaian serba hitam. Tanpa disadari oleh banyak orang, satuan khusus penembak jita juga ditempatkan di daerah-daerah titik strategis untuk mengamankan acara demi mengantisipasi segala kemungkinan, dimana mereka baru tampak terlihat secara umum setelah usai acara.

H. Zulkarnaen Jabar, MA. juga mengkomentari bahwa kampanye terbuka kali ini pastinya akan diperkirakan sangat meriah, karena setiap caleg dan para pendukungnya sudah dikonfirmasi akan kehadiran Jusuf Kalla. Itulah sebabnya persiapan keamanan demi terselenggaranya acara sangat diperhitungkan sesuai protokoler yang berlaku. Caleg DPR RI yang sempat berjoget sepanggung dengan para caleg lainnya ini memang tampak sangat bersemangat dan antusias melihat banyaknya massa pendukung yang hadir. Ia bahkan membawa lebih dari 300-an orang pendukung yang membawa atribut-atribut kampanye bertuliskan nama dan gambar dirinya. Tak kurang puluhan orang yang mengiringi mobil mewahnya setiba di panggung di tengah lapangan GOR, sama seperti halnya Aartje Loppies dengan Tiger Boxernya yang dipenuhi leaflet biodata diri sang caleg.

Acara tersebut dihadiri caleg-caleg seperti Dr. H. Agus Suparman, SE, MM, H. Yusuf Nasih, SSos, MM, H. Abdul Hadie, Drs. H. Rosihan Anwar, Tunggul Simatupang, Sugeng Wijaya, Muhammad Ikhsan Nurjamil, Prayitno Salim, H. Roy Akhyar, H. Achyat Supriyadi, Tamimah Hr. S.Ag, H. Suherman, SH., Drs. Erwin Bahrudin, Isomudin Banjar, SH. Hj. Supriantini, Drs. Abdul Hadie, MM. Safei, Iqbal Daut, SH. Nining Laily Hadi, SPd. H. Heri Budi Susetyo, SE. MM, Drs. M. Yakum, Syafrudin Merin, AMd.

Sidik Rizal & Dian Purnama Putra

Minggu, 29 Maret 2009

H. Budi Purnomo, Caleg Hanura No. 6 DPRD Kota Bekasi, dapil Bekasi Barat & Medan Satria

Peduli Anak Yatim Bukan Karena Kampanye

Bekasi, dobeldobel.com
Apa yang dilakukan oleh sebagian besar caleg pada masa kampanye memang sungguh jadi perhatian banyak orang, khususnya Panwaslu. Bahkan tidak sedikit yang melakukan hal-hal sepele yang terkadang bisa mengundang Panwaslu untuk mempermasalahkan, bahkan bisa dikategorikan sebagai pelanggaran kampanye pemilu.

Hal ini pun sangat dicermati oleh caleg Hanura, untuk DPRD Kota Bekasi, H. Budi Purnomo. Jauh-jauh hari sebelum masa kampanye terbuka diberikan, H. Budi sudah melakukan sosialisasi dengan menemui masyarakat langsung ke rumah-rumah mereka. Karena kepeduliannya pada anak yatim begitu besar, sesuai dengan amanah perintah agama yang dicontohkan Nabi Muhammad s.a.w untuk mencintai anak yatim, H. Budi rela untuk menyambangi mereka sekalipun harus berjalan kaki.

Pergi ke pelosok-pelosok perkampungan dan perumahan dimana di situ ada anak yatim, ayah 3 orang anak ini sengaja mencari mereka. Padahal kalo mau diteliti, tidak ada satupun anak yatim yang dia santuni sudah masuk kategori usia pemilih. Jadi jelas ia tidak sedang melakukan kampanye, demikian ungkapnya kepada dobeldobel.com.

Dan lagi apa yang bisa dikategorikan kampanye terselebung dan bisa membuat Panwaslu menganggapnya sebagai pelanggaran kampanye? Momentum yang dia ambil adalah 10 Muharram H, dimana sudah dikenal banyak pada tanggal hijriah itu adalah sebagai lebarannya anak yatim. Kepeduliannya kepada anak yatim itulah yang mendorongnya untuk lebih mengenal masyarakat di tingkat bawah. Dan lagi menjelang masa kampanye terbuka ia memang harus lebih mengetahui situasi dan kondisi di lapangan, terutama daerah-daerah pemilihannya yang nantinya ia akan menjadi wakil rakyat untuk mereka.

Langsung ataupun tidak manfaat yang akan dia terima atas perolehan suara yang mendukung ia, hanyalah anak yatim yang menjadi pusat perhatiannya. Masalah ia mencalegkan diri, itu juga karena masanya yang memang memungkinkan ia harus terjun ke dunia politik sekarang ini.

"Kalau dulu, pada masa pemilu hanyalah memilih caleg partai yang tidak begitu dikenal dan berhubungan secara langsung, maka pada pemilu 2009 inilah saya mau terjun dan berpartisipasi." ujarnya bersemangat. Baginya pemilu-pemilu sebelumnya dia hanya sempat mendukung satu partai yakni Golkar, itu pun karena istrinya adalah seorang pegawai negeri, sementara dirinya adalah seorang pengusaha kontraktor swasta.

Caleg yang mempunyai pupil mata abu-abu kebiruan ini, juga menyayangkan dengan adanya caleg-caleg yang melakukan pembagian sembako dan kemudian dipermasalahkan oleh Panwaslu (tingkat kecamatan di wilayahnya) melempar batu sembunyi tangan. Diapun menegaskan, jelas beda sekali apa yang dilakukan kepada para anak yatim, adalah kepedulian yang tidak berdampak langsung, karena anak yatim biasanya bukanlah calon pemilih (konstituen) bila dilihat dari usianya yang memang belum masuk umur pemilih. Sedangkan caleg-caleg yang memberikan sembako, sepertinya memang tidak mendidik masyarakat karena mereka jadi sangat amat tergantung dengan pemberian sumbangan sembako dari para caleg. Apalagi jelas-jelas sang caleg memberikan sembako dengan cara menukarkan kupon yang ada atribut partai dan foto sang caleg. Siapapun yang mendapat kupon tersebut untuk ditukarkan sembako umumnya adalah mereka yang sudah cukup umur untuk jadi calon pemilih tetap.

Sekalipun demikian, H. Budi Purnomo, lelaki kelahiran Purworejo yang mempunyai senyum manis ini menambahkan, siapapun boleh saja memberikan sumbangan kepada masyarakat. Sepanjang itu tidak saja dilakukan pada masa kampanye, yang jelas sangat sarat dengan pamrih agar dapat dukungan suara. Alangkah baiknya itu mereka lakukan setelah masa kampanye atau kalau perlu seterusnya, karena sebenarnya rakyat memang membutuhkan itu, cuma memang harus melalui mekanisme dan sistem yang terencana dan profesional dan tidak mengakibatkan rakyat menjadi ketergantungan, demikian ungkapnya kepada dobeldobel.com.

H. Budi Purnomo, caleg Hanura yang telah tinggal di Harapan baru semenjak tahun 1987 ini, mengatakan bahwa ia lebih mempersering silaturrahmi kepada masyarakat di lingkungannya tinggal. Baik itu ada koordinasi dengan tim relawannya, maupun tanpa koordinasi. Jadi masyarakat bisa saja menghubungi dia untuk hadir baik itu untuk urusan hajatan, seperti pernikahan, khitanan ataupun arisan dan yang sejenisnya.

Ada kejadian unik saat ia mengadakan arisan di tempat salah satu keluarga dan temannya, dimana karena mengundang pedagang bakso, siomay dan mie ayam dalam satu acara arisan, ia sempat ditegur oleh pihak Panwaslu (Panwascam) karena sepertinya sedang melakukan kampanye, namun dengan tersenyum dia menjawab tidak ada kampanye pada acara tersevut, apalagi tidak ada satu atributpun yang ia bawa. Dari situ dia mulai belajar banyak untuk lebih berhati-hati dengan kegiatan acara yang dia hadiri.

Ada juga dia diundang dalam satu acara, dimana ia sempat dihubungi oleh beberapa ibu-ibu dan tanpa dia duga, dia dimintai sumbangan berupa sembako. Tentunya dia sangat sedih sekali, karena memang H. Budi tidak menyediakan, jangankan 5kg sembako, 1kg saja tidak. Karena bukan itu yang mau ia lakukan dalam sosialisasi.

Satu keberuntungan dari namanya, H. Budi Purnomo mempunyai lawan politik yang sudah lebih dahulu terkenal dan pernah menjadi anggota dewan yang serupa nama depannya. Jadi saat dia bersosialisasi ke tengah masyarakat, dia hanya menjelaskan bahwa ia datang dari partai yang berbeda. Demikian pula namanya yang di belakang, sama dengan caleg partainya, Hanura namun dari DPR RI.

(Sidik Rizal)

------------------------------------------------------
Nama Lengkap: H. Budi Purnomo

TTL: Purworejo, 24 Juni 1959

Alamat:
Jl. Apel 2 no. 6, Perum Harapan Baru 1, Kel. Kota Baru Bekasi Barat
Telp.: 021.886.3530 (Posko)

Ayah: H.R. Sastrosoewarno (alm.)
Ibu: Hj. Juwariyah

Istri: Hj. Sri Purwaning Rahayu
Anak:
1. Laras Chintya Dewi / Laras (S1-Ilmu Komunikasi)
2. Permata Dewi Andanti / Danti (SMA 12 Jakarta)
3. Azhary S. Andantha / Ary (SMP kelas 1)

Riwayat Pekerjaan:
1. Direktur Utama PT. Andalan Kita Prima Semesta, bidang usaha Kontraktor Konstruksi

Riwayat Organisasi:
1. Pengurus RW di Perumahan Harapan Baru 1
2. Pegurus/Ketua RT di Perumahan Harapan Baru 1
3. Pengurus DKM Masjid di Harapan Baru 1, Ketua Bid.III (Konstruksi, Elektri dan Mekanikal)
4. Ketua Koordinator Bekasi Barat KJS (Klub Jantung Sehat) Kota Bekasi
5. Ketua Koordinator Jambore Nasional Jantung Sehat di Purwokerto

Senin, 02 Maret 2009

Helmy Faisal : Peluang Koalisi PKB-PD Makin Terbuka

Sumber : PKB Online

Jakarta, PKB Online

Partai Kebangkitan Bangsa hampir dipastikan bakal berkoalisi dengan Partai Demokrat dalam pemilihan presiden Juli mendatang. Hal ini diungkap Wakil Sekjen DPP PKB Helmy Faisal Zaini dalam acara diskusi bertajuk "Menguji Kekuatan Koalisi Pra dan Pasca Pemilu Legislatif" di Gedung MPR/DPR RI di Senayan, kamis (2/03) kemarin.

“Sudah hampir pasti PKB bakal koalisi dengan PD, kerjasama PKB-PD di pemerintahan sekarang ini cukup signifikan dan akan kita kawal hingga akhir masa jabatan,” katanya disela dialog.

Meski sudah dipastikan bakal koalisi, namun Helmy menegaskan masih akan menunggu hasil pemilu legislatif yang bakal di helat 9 April mendatang.”Putusan final tetap menunggu hasil Pilleg, kalau suara PKB signifikan, bakal kita sandingkan kader terbaik kita Pak Muhaimin sebagai wapresnya SBY dari Partai Demokrat,” tandasnya.

Keseriusan PKB bakal koalisi dengan Demokrat memang diakui Helmy sudah diretas sejak lama, hanya saja menurutnya intensitas komunikasi diantara petinggi kedua parpol makin intensive jelang pelaksanaan pemilu legislatif dan persiapan pemilu legislatif.

Tidak tanggung-tanggung, Helmy menyebutkan PKB sudah menyiapkan enam kader terbaik untuk posisi menteri sebagai bukti keseriusan PKB apabila menang dalam Pimilu legislatif dan berhasil mengantarkan SBY menjadi Presiden.

“Sekarang kader PKB hanya dua di kementerian dan Alhamdulillah kinerjanya luar biasa, saya pikir layak bagi PKB menargetkan enam kursi menteri di kabinet,” tandas Helmy.

Dalam dialog tersebut selain Helmy Faisal, tampak pula hadir pengamat dari Universutas Indonesia (UI) Boni Hargent dan Pakar ekonomi Yanuar Rizky. (rif)

Kamis, 19 Februari 2009

Drs. H. Suchud Achmadi, MM. Caleg DPRD Propinsi Jawa Barat PAN No. 8 dapil Kota dan Kab. Bekasi

Bersatu Menuju Bekasi yang
Agamis
Bermartabat
Cerdas
Disiplinj/Tertib

Adalah seorang mantan Kepala Sekolah yang rela untuk memajukan pensiun dini, karena tuntutan persyaratan untuk bisa mengikuti pencalegan. PNS yang sudah lama makan asam garam dunia pendidikan ini berkeinginan untuk memperjuangkan nasib para praktisi dunia pendidikan khususnya para guru. Dengan jaringan yang dimilikinya seperti ikatan Keluarga Besar Banyumasan yang diperkuat dengan organisasi radio komunikasi antar penduduk RAPI dan organisasi sejenis, dia berkeyanikan akan mencapai persyaratan BPP dalam Pemilu 2009 mendatang.

Caleg yang resminya tahun 2009 ini jadi pensiunan Pegawai Negeri mempunyai cita-cita ingin mewujudkan Bekasi menjadi BERSAUDARA (BERsih, Sehat, Asri, Unggul, Damai, Aman, Ramah, Agamis). Dengan mengikuti platform partainya, ia berjuang untuk pembangunan infrastruktur, seperti Jalan Raya, Jembatan, Sekolah/Madrasah, Terminal, Rumah Sakit, Pasar dan Sarana Tempat Ibadah. Dibarengi dengan itu semua mantan Kepala Sekolah ini berkeinginan agar biaya Kesehatan semakin murah (terjangkau) & cepat serta terbukanya kesempatan lapangan kerja dengan peningkatan kualitas tenaga kerja yang bermartabat. Demikian pungkasnya menutupi wawancara kami.

PENGALAMAN KERJA & ORGANISASI:
1. Guru MTs. Negeri Bekasi
2. Pengawas Pendidikan Agama Islam:
--- Kec. Pebayuran, Kab. Bekasi
--- Kec. Tambun, Kab. Bekasi
--- Kec. Cikarang, Kab. Bekasi
--- Kec. Rawa Lumbu, Kota Bekasi
--- Kec. Bekasi Timur, Kota Bekasi
--- Kec. Bekasi Selatan, Kota Bekasi
3. Pendiri Yayasan Al-Muhajirin Perum 3 Bekasi Timur
-- Kepala Sekolah SMP Al-Muhajirin, Perumnas 3 - Bekasi Timur
-- Kepala Sekolah SMA Al-Muhajirin Perumnas 3 Bekasi
4. Ketua RW XX Duren Jaya
- LKMD Kelurahan Duren Jaya Bekasi Timur
5. Ketua Umum KKB (Kerukunan Keluarga Banyumasan) Kota & Kab. Bekasi
6. RAPI (Radio Antar Penduduk Indonesia) Wil.11 Bekas, JZ.10.LCP
7. POKDAR KANTIBMAS Sektor Bekasi Timur
-- SISPANDU Kota Bekasi
8. Pendiri Klub Jantung Sehat (Senam Jantung) Kota & Kab. Bekasi
9. Pendiri Yayasan Al-Hidayah Perumnas 3
10. Pendiri Yayasan Al-Huda Perumnas 3
11. Pendiri SMP Al-Wathoniyah & SMK Tirta Kencxana Kota Bekasi

Latar Belakang Pendidikan:
1. Universitas Indonesia, Semester Akhir
2. ..... (dilanjutkan nanti)

Senin, 02 Februari 2009

Indra J. Piliang terpilih sebagai juru debat Partai Golkar

Indra J. Piliang terpilih sebagai juru debat Partai Golkar oleh Tim Kajian Strategis dan Pencitraan Bappilu Partai Golkar.

Pemantapan Tim Debat Nasional digelar di Novotel Bogor, sejak Sabtu hingga Minggu ini. Acara dibuka oleh Ketua Umum DPP Partai Golkar, Jusuf Kalla.
Pemantapan ini digelar meliputi Effective Public Speaking, Persiapan Talk Show Televisi dan Simulasi Debat.

Caleg Meninggal, Suara Sah Menjadi Perolehan Parpol

KALIANDA – Calon anggota legislatif (caleg) yang meninggal dunia setelah ditetapkan dalam daftar calon tetap (DCT) dalam pemilu legislatif 2009 ini, namanya tidak akan dicoret oleh KPU. Jika tidak ada laporan dari parpol yang bersangkutan, maka ketika namanya dicontreng dalam pemilihan, maka suara tersebut menjadi suara sah perolehan parpol yang mengusungnya.

Demikian dijelaskan Anggota KPUD Lamsel Dra. Erlina saat dikonfirmasi Radar Lamsel Selasa (20/1).

Ia menegaskan, dalam hal ini pihak KPUD Lamsel sudah memberikan imbauan kepada parpol-parpol agar melakukan validasi pada tanggal 19 Januari 2009 lalu, tentang caleg yang masuk PNS dan bagi caleg yang meninggal. “Kita sudah imbau kepada kepada masing-masing parpol agar melakukan validasi mengenai caleg yang masuk PNS dan meninggal dunia setelah masuk DCT,” ujarnya.

Namun, diketahui hingga saat ini laporan belum masuk kepada KPUD setempat terkait hal tersebut. “Sejauh ini, belum ada laporan dari parpol mengenai laporan adanya caleg (DCT-Red) yang masuk PNS dan meninggal,” tukas Erlina.

Meski, nantinya terdapat laporan dari parpol terkait hal itu, pihak KPUD Lamsel akan langsung mencoret caleg dari DCT, sehingga saat pemilihan digelar tidak dicontreng oleh pemilih yang belum mengetahui kejadian itu. “Kita akan coret dari DCT ,” tukasnya. (Hendar Cahyadi)

Google+ Followers

Web Partner

AgusWinanto.-