Informasi dan berita tentang caleg, capres & Pemilukada. Redaksi: (021)271.01.381

English French German Spain Italian Dutch Russian Portuguese Japanese Korean Arabic Chinese Simplified twitterfacebookgoogle plusrss feedemail

Korupsi jangan dijadikan budaya! Pilih pemimpin yang cinta rakyat, bukan cinta kekuasaan! Bagian Iklan Hubungi (021)27101381 - 081385386583



Rabu, 13 Mei 2009

Isu Boediono Mulai Makan Korban


INILAH.COM, Jakarta – Maraknya kabar bahwa Boediono terpilih sebagai cawapres SBY, mulai memakan korban di tubuh koalisi Blok Cikeas. PAN,PKS,PKB, dan PP menghadapi konflik dan gesekan internal. Pro-kontra di tubuh partai-partai Islam itu jadi bukti adanya korban dari masuknya Boediono ke Cikeas.

Tak hanya itu. Isu Gubernur Bank Indonesia itu mulai menimbulkan reaksi garang dan ganas di kalangan satpam Bank Indonesia. Buktinya, reporter stasiun televisi SCTV, Carlos Pardede, ditanduk petugas keamanan Gedung BI saat hendak melakukan peliputan di kawasan bank sentral itu, Rabu (13/5). Pelipis Carlos pecah dan berdarah.

(Sidik Rizal: Ini mah memang benar bila Boediono beresiko, yah tapi begitulah politik bisa merubah orang dalam sekejap. Atau orang yang mengubah politik dalam sekejap?)

Pagi itu Carlos dan sopir, Borjiman, datang ke Gedung BI. Mereka bermaksud mencari kesempatan mewawancarai Gubernur BI Boediono yang dipastikan dipinang Susilo Bambang Yudhoyono menjadi cawapres.

Saat tiba di pintu gerbang BI, seorang petugas keamanan memberhentikan mereka. Dengan bentakan yang terdengar arogan, petugas bertanya maksud kedatangan Carlos dan kawannya. Carlos bilang bahwa mereka hendak menemui seorang narasumber di BI. Menengar jawaban Carlos, petugas keamanan pun langsung mengusir sang reporter.

Mendengar suara petugas keamanan yang membentak-bentak, Carlos pun turun dari mobil dan meminta petugas berbicara dengan cara lebih sopan kepada tamu. Adu mulut pun terjadi. Tiba-tiba seorang petugas keamanan lain bernama Marlon menghampiri Carlos dan menandukkan kepalanya ke wajah Carlos. Pelipis Carlos pecah dan berdarah.

Menghadapi arogansi satpam BI ini, Aliansi Jurnalistik Indonesia (AJI) bereaksi keras. Mereka mengecam aksi kekerasan yang dilakukan petugas keamanan Gedun BI terhadap seorang jurnalis televise dari SCTV itu.

Ketua AJI Jakarta Nezar Patria, menyatakan, ulah satpam BI itu jelas bertentangan dengan UU Pers yang memberikan hak kepada wartawan untuk melakukan liputan di mana pun dalam rangka melayani hak masyarakat untuk tahu. Tentang kasus ini, Nezar yakin, apa yang dilakukan Marlon sudah melewati batas kewajaran.

"Tindakan satpam BI itu berlebihan. Kalau memang ada pelarangan, itu bisa disampaikan dengan cara yang lebih baik, tanpa kekerasan," kata Nezar.

AJI berharap, lembaga otoritas moneter itu tidak overacting, meskipun salah satu pimpinannya telah dipinang untuk menjadi calon kuat wakil presiden Indonesia. Bagaimana pun BI sebagai otoritas moneter menjadi wilayah yang tak kebal aturan.

Para jurnalis bergegas melaporkan ke polisi. Kepala Polres Jakarta Pusat Kombes (Pol) Ike Edwin menjanjikan bakal menindaklanjuti laporan dari pekerja pers tersebut.

Pelaku penandukan terhadap wartawan stasiun televisi SCTV, Carlos Pardede, pun terancam Pasal 351 KUHP soal penganiayaan. Berdasarkan ketentuan Pasal 351, petugas keamanan yang bernama Marlon ini terancam hukuman pidana penjara paling lama lima tahun enam bulan.

Sungguh, kekerasan adalah bukti kebiadaban! [P1]

PKB Solid Sokong SBY-Boediono

INILAH.COM, Jakarta - Penolakan cawapres Boediono hampir terjadi di internal parpol pengusung SBY. Tak terkecuali PKB. Namun, PKB memastikan tetap mendukung duet SBY-Boediono.

"Tidak ada yang menolak, kita masih solid. DPW solid dengan DPP PKB," ujar Wasekjen PKB, Helmi Faisal Zaini dalam perbincangannya dengan INILAH.COM di Jakarta, Rabu (13/5).

PKB, dikatakan dia, memaklumi jika ada beberapa kader yang menolak pencalonan Gubernur Bank Sentral itu menjadi pendamping SBY. Apalagi, penolakan itu dikarenakan masih memegang komitmen mengusung Ketua Umum PKB Muhaimin Iskandar.

"Bahwa mereka mengajukan Pak Muhaimin kemarin itukan hasil Muspimnas. Tapi pada hasilnya PKB kan harus ikut dalam koalisi," terangnya.

Mengenai penolakan mantan Menko Perekonomian itu karena paham kejawennya, Helmi menolak berkomentar. Sebab, pernyataan tersebut terlalu bersifat subyektif, tanpa mengadalkan obyektifitas.

"Sejauh integritas moral dan visi kemanusian tidak ada masalah. Tidak selalu benar tuduhan itu," jelasnya.

Dituturkan dia, pertemuan yang dilakukan hari ini di DPP hanya sebatas pertemuan biasa. Yakni, Muhaimin hanya melaporkan perkembangan terakhir seputar koalisi dengan Partai Demokrat.

"Teman-teman DPW bersilaturrahmi dengan Ketua Umum. Agendanya lebih menyampaikan perkembangan mutakhir politik terkini," tandasnya. [jib/ana]

Google+ Followers

Web Partner

AgusWinanto.-