Informasi dan berita tentang caleg, capres & Pemilukada. Redaksi: (021)271.01.381

English French German Spain Italian Dutch Russian Portuguese Japanese Korean Arabic Chinese Simplified twitterfacebookgoogle plusrss feedemail

Korupsi jangan dijadikan budaya! Pilih pemimpin yang cinta rakyat, bukan cinta kekuasaan! Bagian Iklan Hubungi (021)27101381 - 081385386583



Minggu, 31 Mei 2009

EKONOMI KERAKYATAN-NYA PRABOWO SUBIANTO

Prabowo:
Intinya adalah bagamana ekonomi suatu bangsa membawa kepada kesejahteraan rakyatnya

DI POSTING OLEH : EKO PRASTYO on Minggu, Mei 31, 2009


Kita tentu patut bersyukur bila kini media massa terutama televisi dapat marak menampilkan dan mengulas visi-misi dari paket2 pasangan Capres-Cawapres ini. Hal seperti ini tidak terbayangkan pada 15 tahun yang lalu, saat membicarakan ttg suksesi saja (istilah halus utk niat menjungkalkan Soeharto dari kursinya krn sudah terlalu membosankan), sepertinya dianggap tabu, pamali. Kini publik dapat menilai visi-misi orang yg akan mereka pilih sbg pemimpin nomer satu Republik ini, dari bbrp pilihan, lewat media televisi. Tentu kita patut bersyukur.

Dr banyak stasiun televisi yg menayangkan itu dg modelnya masing2, TVRI dg acara Dialog Aktual Plus juga menghadirkan capres/cawapres ini. Pada Kamis 28 Mei 2009 jam 22.00-23.00 WIB ditampilkanlah Prabowo Subianto, sedangkan pada pd Senin 1 Juni 2009 y.a.d, akan ditampilkan Boediono.

Pd saat menampilkan Prabowo ini, host didampingi oleh bbrp akademisi FE-UI a.l.: Prof. Sri Edi Swasono, Dr. Nina; dan Prof. Irwan dari Universitas Andalas. Berikut ringkasan yg sempat saya catat:

Pengantar pembuka, menampilkan opini pandangan thd acara ini (direkam sebelumnya), dr;

Firmanzah, PhD (Dekan FE UI): Apa yg mulai sering diungkapkan ttg wacana Ekonomi Kerakyatan selama ini kurang mendalam kajiannya. Memang perlu dipertemukan antara akademisi dengan politisi, shg bgmn nanti menjadi public policy yg realistis dapat diterapkan. Ekonomi global skrg saling terkait satu sama lain. Bgmn dg kajian ini nanti kita dapat mendudukkannya dalam konstelasi nasional, regional, internasional. Selanjutnya, Pendidikan Politik yg terkait dg isu-isu ekonomi dapat kita lakukan.

Prabowo Subianto:

DiTanya (T) host : Apa yg Anda maksudkan dg ‘ekonomi kerakyatan’?

Jawab Prabowo (J) : Intinya adl bgmn ekonomi suatu bangsa membawa kpd kesejahteraan rakyatnya. Visi-Misi saya ini telah muncul saya mulai sejak th. 97-98 saat ekonomi kita mengalami crash, mengalami krisis; padahal kita ingat benar pd th. 1997 World Bank me-muji2 Indonesia. Saat krisis itu nilai rupiah hancur, dr awalnya 2.000/US$ menjadi 15.000/US$, merosot 7 x lipat.

Dilihat dr neraca ekspor-impor, ssungguhnya sbg bangsa kita untung. Kalo demikian, kalo sbg bangsa kita untung, kok kita alami krisis? Trnyata, … pd 1997-1998 itu, neraca untung 25 miliar US$/tahun. Selama 12 tahun. Seharusnya devisa 300 miliar US$. Ttp mngapa dr laporan yg dirilis BI tak lebih banyak dari 60 miliar US$? Ini karena kita tidak mampu menjaga kekayaan alam yg ada di negeri kita.

Dlm hal pilihan kebijakan ekonomi, saya tidak mempermasalahkan istilah, apakah itu neo-liberal, neo-klasikal; … tapi ubahlah. Saya sudah membaca tulisan2 dr Pak Edi Swasono, Pak Mubyarto. Pasal 33 UUD ’45 itu sudah kita tinggalkan berapa puluh tahun?

(T) : Bgmn caranya?

(J) : Kita lihat mana sektor di mana Indonesia masih punya keunggulan? = Pertanian! Wilayah kita ini adl 1/3 zona tropis dunia. 11% dr 33% zona tropis dunia. Kita dapat panen 2-3 kali setahun. Air hujan sepanjang tahun. Masalah mendasar = kemiskinan. Sektor pertanian paling banyak dan cepat menyerap Tenaga Kerja dan memperoleh nilai tambah kembali. Beras 120 hari. Jagung 95 hari. Bisa cepat dapat keuntungan. Kita masih punya lahan. Justru kita punya 59 juta ha hutan yg rusak, diubah mjd lahan produktif. Dr prtanian bisa swasembada energi, bio-fuel; bisa jadi penyuplai dunia, net-eksporter utk dunia.

Dr. Nina (FE UI) : Ini kebijakan yg menarik. Dlm hal kebijakan pertanian, dibanding kebijakan pemerintah sekarang, perbedaannya di mana?

Prabowo : Pd pemerintah skrg, APBN kita tahun ini Rp 1000 triliun (=100 miliar US$), hanya 1,6 % utk sektor pertanian. 1,6 % saja! Ini jelas bukan pro-poor. Padahal pemerintah juga mengalokasikan stimulus Rp 37 triliun utk hadapi krisis global, dan yg diberi adalah perusahaan2 besar. … Kita dapat lihat bukankah Kebijakan a.l. dicerminkan oleh anggaran2, proyek2? Tapi apa yg terjadi? Memberi kredit utk bikin apartemen mewah. Ini bukan ekonomi kerakyatan.

BRI memiliki 32 triliun; masih membiayai apartemen2 mewah. Ini tidak berpihak kpd ekonomi kerakyatan. Ini ketidak-adilan sistemik.

Prof. Irwan (Univ. Andalas) :

Kalau menyimak paparan tadi, betapa terlihat utk niat sudah adil dan makmur secepat mungkin. Kita lihat Thailand, di sana ada Thai Farmer Bank yg benar2 mengurusi petani. Apakah mau dibuat plat khusus utk itu? … Slama ini mmg terlalu banyak beban bagi rakyat bila mau pinjam duit. Mereka tak punya pengetahuan dan akses ttg itu. … Lalu juga Produksi mau dikemanakan, kalau memang subur? Ini mmg visi bahwa bgmn menciptakan titik tumbuh tidak hanya di Jakarta, bagaimana? Slama ini masih yg terjadi adl APBN masih menanggung APBD. Nasional masih menanggung daerah. Nah visinya, harapannya di masa depan nanti, Daerah-lah yg justru kasih makan Presiden. APBD beri makan APBN. Bgmn caranya ini?

Prabowo : Dulu BRI itu bank koperasi tani dan nelayan, itu dulunya BRI. Tapi kini pemimpin2 bank lupa akan tanggung-jawabnya. … Mau dibuat apa jagung? Lha Pemerintah harus ikut terjun, ikut intervensi! Kalo neo-klasikal itu = pemerintah nonton saja, jadi wasit saja. Neo-liberal = semua akan diatur dikoreksi oleh pasar = invisible-hand. Apa invisible-hand ini?Tangan hantu? (audience tertawa) Diserahkan kpd tangan yg tak terlihat? Dulu kita punya Bulog, koperasi2, KUD2, .. jangan dibubarkan semua. Dulu belum bagus, tapi perlu diperbaiki, bukannya dibubarkan. Pemerintah memberikan dukungan kpd dukungan2 politis. Kini kita masih impor singkong! Garam saja masih impor. Pemerintah harus intervensi. Pemerintah jangan hanya jadi wasit.

Pemerataannya?:

Janganlah lembaga2 keuangan beri perhatian kpd sektor2 mewah. Pd saat crash, kita ingat yg menopang adalah ekonomi rakyat. Pengusaha besar ngemplang hutang semua.

Prof. Edi: Neo-liberalisme= menggusur orang miskin. Ekonomi sekarang memang demikian. Mall baru akan menggusur ekonomi tradisional. Di mana2 skrg ada Carrefour, menggasak retail2 kita, mengaku bukan neo-liberal, tp penggusuran orang miskin jalan terus.

No. 1: Sbg Ketua Asosiasi Pedagang Pasar, bgmn? Bgmn tjd penggusuran? … HKTI juga? Apa scr sistematis jabatan2 itu disiapkan? (audience tertawa) … maksud saya, kalau memang disiapkan, itu ‘kan baik?

No. 2: Bank mengenakan bunga. Pdhal ciri org miskin = tak bisa mbayar bunga. Jaminan? Orang miskin tak bisa memberi jaminan. Apakah dg demikian UU Perbankan akan Anda rubah?

Prabowo: Di HKTI itu saya diminta jadi Ketua Umum. Kita sudah melakukan bbrp advokasi, dan sudah pengaruhi bbrp kebijakan. Tapi utk Pupuk mmg belum. Sdg-kan di Asosiasi Pedagang Pasar Tradisional. Saya kaget (saat ada yg mengajukan/mengusulkan dirinya menjadi Ketua –pengutip). Kok saya? Ternyata, pada waktu-waktu akhir ini sudah kejadian setiap minggu satu pasar terbakar. Mereka bilang: “Pak, itu bukan terbakar. Itu dibakar.” Setiap minggu satu pasar terbakar. Setiap habis, datang developer kembangkan pasar baru. Kmd dibangunlah pasar baru, … harga sudah tidak terbayar! Di blok M harganya per meter lebih mahal drpd Orchard Road, bahkan drpd New York! Ini menunjukkan tidak adanya keberpihakan dari pemimpin2 utk membela rakyatnya sendiri. Saya terjun ini krn mmg didesak oleh mereka yg jadi anggota APPSI dan HKTI. Mereka bilang: “Kalo kita tak masuk, kita selalu dirugikan terus, pak. Kalo kita tak masuk.”

… UU Perbankan? Kalo bank2 pemerintah itu di bawah eksekutif, Dirut2nya bisa dipanggil. …. Tepuk tangannya di sini (sahut Prof Edi).

Kebijakan perbankan?

Bank2 pemerintah itu dg kehendak politik, direksi diberi mission yg jelas. Dalam hal micro-financing itu, sesungguhnya bukan Bangladesh yg memulai. Kita (/BRI?) dulu pernah Ttg UU itu; kita akan kumpulkan ahli2, prof. … Dg kehendak politik, kita bisa larang jg beri lagi kredit utk proyek2 bangun mewah2.

Sulastri Surono (FE-UI) : Hutan kita 59 juta ha mau ditanami bio-etanol? Utk itu butuh anggaran. Bgmn kita akan membayar hutang? Akan mengemplang-kah? Argentina pd 2001 tidak membayar hutang…. … Bgmn pertumbuhan ekonomi double digit?

Prabowo : Dalam praktek dagang ya, sesungguhnya sangat lazim, minta dijadwalkan kembali itu. Begitu dalam praktek dagang. Tak ada alasan utk tidak re-schedule of doubt-payment. Sbg contoh, th. 2009 ini kita harus bayar hutang 10 miliar US$ (Rp 95 triliun) utk pokok dan bunganya. Bgmn kalo bayarnya itu 5 tahun lagi atau 10 tahun lagi. Ini dapat utk investasi itu. Dlm waktu sekian tahun kita dapat bayar utang, krn kita dapat nilai tambah. 1ha = 19-20 ton etanol per tahun. Aren hutan produksi. 80 juta ton etanol itu equivalen dg … BBM.

Edi Swasono : Ada satu catatan, pak. Ada utang IMF yg memang jangan dibayar, krn kesalahan IMF; terdikte oleh IMF. Kalo itu kesalahan IMF, ngapain dibayar?

Dibuka pertanyaan dr floor audience yg hadir di studio:

Nining Susilo (Kepala UKM Centre FE-UI)

Saya mengurusi 48 debitur, pengusaha mikro kecil. 10 dalam skala Grameen Bank. Bgmn kami menangani orang miskin ini. Ekonomi kerakyatan itu bahasanya nurani, menangani orang kecil.

Jangan salah (,pak Edi). Orang kecil itu mampu membayar suku bunga! Ciptakanlah orang miskin punya bank sendiri.

Prabowo: Itulah arahnya, orang miskin mampu bayar. Betapa multiplier-efffect yg dapat dicapai dari itu.

Edi: Memang orang kecil kan tidak punya jaminan. Pasal mengenai jaminan harus diamandemen.

Prof. Irwan : Rakyat ini ada di desa dan daerah. Yg paling dekat dg rakyat adalah Bupati, atau Gubernur; Camat dsb. Apakah Prabowo akan meng-otak-atik UU Otonomi . Mau diatur semua dari Pusat?

Prabowo : Tentu tidak. Tapi kita perlu efisiensi uang rakyat. Kita tak mau lagi ke ekonomi sentralistis. Uang yg digunakan pemerintah jangan malu dipertanyakan; itu uang di mana dipergunakan? BUMN harus digunakan sbg lokomotif, bukan dijual, bukan diprivatisasi.

Ada yg terlupa dr Bu Sulastri ttg dua digit tadi: Ini sekarang jadi polemik. Awalnya… saya tercengang saat Januari lalu mendapat kajian dari badan riset luar negeri ttg GDP Indonesia; kalau 1 digit, masih jauh GDP 200 dolar itu. Kenapa kok kita puas dg sasaran satu digit? Kita akan menerima vonis, masih miskin 50 tahun lagi. Apa ini yg kita mau setelah 100 tahun merdeka? Kita biasa utk dialog, dg ahli ekonomi? Mau diskusi? Saya siap. Saya yakin itu tidak mustahil.

(Edi): Ini karena tidak dayagunakan resources-base lokal, they don’t transform ‘beban’ menjadi ‘asset’? Bgmn caranya?

Prabowo: Saat saya jadi tentara, kita mendapat falsafah : Tidak ada prajurit yg jelek, yg ada hanya komandan2 yg jelek. Kita harus berpihak kpd bangsa sendiri.

Host memberikan kesempatan kpd Dr. Nina utk memberikan penilaian

Dr. Nina: Kendala: kita sesungguhnya sudah termasuk berpendapatan menengah. Tp kendala. Dg strategi yg dikemukakan: pertanian, pro-poor, ke mikro; itu. Ada 2 kemungkinan. Bisa tidak penting-lah pertumbuhan itu, krn yag penting adl penyediaan lapangan kerja. Saya tanya: Shift kalo target ini (pertumbuhan-peng.) tak tercapai bgmn? BUMN menjadi motor, seperti apa? Tak hanya pro-poor, engine-nya itu?

Prabowo:

Saya termasuk sangat keras menentang penjualan2 BUMN. Saya ada mendengar akan ada Privatisasi lagi 33 -35 BUMN? Tapi krn ini menjelang Pemilu lalu agak dirobah? (audience tertawa) Ini saya tentang. Dr sudut pandang yg saya yakini: ekonomi suatu bangsa, survival bangsa itu? Kalo dijual, berarti tidak punya pertahanan ekonomi lagi. Kita akan telanjang. BUMN ini pencetak uang yg sangat banyak. Di Singapore itu 70% adl BUMN. BUMN mjd motor=lokomotif. China, India, … Perancis. Kalo PLN di-swasta-kan, bayangkan! Kini pelabuhan2 mulai dikuasai oleh swasta asing . Ini membahayakan.

Prof. Irwan : Jarang paralel; pertumbuhan dengan pemerataan itu. Kalo mengejar pertumbuhan, pemerataan tertinggal. Pertumbuhan = investasi. Investasi = pebisnis kelas kakap. Bgmn ini agar konsisten?

Prabowo : Yg menciptakan lapangan kerja banyak! Bukan pertumbuhan akan membebankan pemerataan. Kalau itu, pertumbuhan dg kerangka pertumbuhan neo-klasikal – neo-liberal. Tapi kalo kita, kita akan gunakan BUMN utk mendorong. Kalo investor2 asing melihat, tertarik, kalo dr luar ya monggo. Uang rakyat tidak akan kita lepas. Invisible hand? ….

Realistis-kah ini? Saya bukan hanya asal … e.. njeplak, ya. Sudah satu tahun lebih ini saya kumpulkan kelompok pemikir. Mengkaji rekomendasi2. Kalo ada waktu 3,5 jam saya akan siap siap bertemu dg ahli2, …. tentu saja saya juga didampingi dg ahli2 yg mendukung. (audience tertawa).

Prof. Edi: Pesan utk Pak Prabowo, kalo terpilih, hati2lah memilih anak buah. Yg punya hobi menjual itu anak buahnya. Hati2 memilih anak-buah.

….

Begitulah yang sempat saya catat. Tentu Anda yg tahu banyak ilmu ekonomi dapat menilainya jauh lebih baik drpd saya. Kalo saya sih, catatan di atas menarik karena ada yang membuka wawasan saya. Tentang benar-tepat atau tidaknya dari segi keilmuan, realistis atau tidaknya; tentu saja saya tidak tahu. Anda yang lebih tahu saya mohon komentarnya.

Kutipan: THE NURDAYAT FOUNDATION

JALAN TERJAL SBY-BUDIONO

Politik Bukanlah Matematika.
Satu Tambah Satu Sama dengan Dua


syair79.wordpress.com

SBY akan mengambil Boediono sebagai pendamping. Gubernur Bank Indonesia (BI) itu dianggap tepat menjadi cawapres. Dia hebat ‘hitung-menghitung’, bersih, dan berasal dari profesional. Boediono, di tengah banyaknya cawapres yang diajukan partai politik klan koalisi, memang merupakan jawaban yang pas.

Kalau diamati, nama Boediono muncul melalui proses seleksi ‘bumi hangus’ partai politik mitra koalisi. Itu karena PKS mengajukan Hidayat Nur Wahid untuk posisi cawapres, PAN ‘versi Amien Rais’ memajukan Hatta Rajasa, dan PKB menampilkan Muhaimin Iskandar. Uniknya, ketiganya dianggap tidak ideal. Itu karena semua menyimpan masalah. Masalah internal !

Sedang Partai Golkar pasca ‘perceraian’ SBY dengan JK, membuka ruang bagi Akbar Tandjung dan Aburizal Bakrie memajukan diri sebagai cawapres SBY. Ini sampai detik terakhir masih menyisakan Akbar Tandjung, dikocok bersama Boediono, Hatta Rajasa, dan Hidayat Nur Wahid.

Namun di last minutes ternyata pilihan jatuh ke Boediono. Pilihan moderat, agar tidak ‘menyakiti’ partai yang berkoalisi. Kabar yang hampir pasti itu menurut rencana dideklarasikan hari Jumat. Hari yang bakal terbuka goro-goro. Keributan panjang sampai masa contrengan pilihan presiden tiba.

Politik bukanlah matematika. Satu tambah satu sama dengan dua. Politik itu cara, seni kalkulasi. Kalau diangkakan mirip rumus toto gelap (togel). Angka pasti menjadi tidak pasti, tapi yang tidak pasti berubah jadi pasti. Itu karena ada angka mistik, angka penjumlahan, juga angka setan.

Boediono adalah angka pasti. Dia hebat dalam bidang ekonomi. Akurasi hitungan sangat jempolan. Dia bersih dari rumor pat-gulipat uang. Dan tidak banyak omong dalam berbagai persoalan. Dia memang figur bagus dari sisi bibit, bobot dan bebet. Bersih, loyal, teguh pendirian, sehingga ‘ya’ dan ‘tidak’ menjadi terang benderang di tangan dia. Bukan abu-abu.

Bagi bangsa ini, Boediono adalah salah satu aset langka. Dia bak Baharudin Lopa. Dan bagi saya tidak jauh dengan Sri Mulyani, Kapolri lama dan Kapolri kini, juga Hendarman Supanji. Tapi tokoh macam itu tidak bisa disamakan dengan sosok idaman untuk jabatan pucuk pimpinan. Sebab mereka bukan ‘pemain’. Mereka rentan digoyang dan ‘didiskreditkan’.

Karakter SBY sebenarnya tidaklah jauh dari Boediono. Karakter macam ini selain idealistis, juga punya kelemahan yang mendasar. Gampang diseret dalam polemik murahan dan kuping tipis. Disindir menyindir, dipancing terpancing. Hanya karena kebijakan politiknya bermanfaat bagi rakyat dan didampingi JK yang ‘nyinyir’, maka ‘kelemahan’ SBY tertutup dan tampil sebagai sosok yang diidolakan.

Namun jika SBY didampingi tokoh yang berkarakter sama, maka bukan kekuatan yang kelak akan tampil. Justru ‘kebaikan’ keduanya bakal melahirkan ketidakbaikan. Sebab bak main bola, keduanya akan defensif menghadapi serbuan dari lawan-lawan politiknya, terutama di parlemen. Tidak ada counter attack yang bisa dilakukan. Kalaulah ada, maka itu cenderung menyulut situasi yang chaostis.

Kenapa begitu? Karena iklim politik negeri ini masih hantam kromo. Rumor dan fitnah dianggap biasa. Intrik dan sindir-menyindir dianggap lumrah. Itu pula mengapa politik devide et impera gampang dirancang dan didistribusikan, karena kepentingannya mudah dicerna, money oriented.

Memang betul, gandeng siapa saja SBY diprediksi bakal menang. Tapi kemenangan itu rasanya bakal sangat menyakitkan jika segala kebijakan nanti terlalu dikritisi. Diteror dan dinegasikan.

Menurut saya, harusnya bukan Boediono yang diambil. Sosok yang paling cocok untuk menghadapi situasi ke depan adalah Akbar Tandjung. Tokoh ini mampu masuk ke berbagai lini, dan punya kekuatan untuk memecah suara Golkar. Dia bisa jadi martir agar dacin pemerintahan yang diramal bakal terus-terusan digoyang berjalan seimbang.

Benarkah SBY bakal pilih Boediono untuk pendamping? Kalau iya, mari kita lihat sama-sama, seberapa kekuatan SBY dan Partai Demokrat dalam menghadapi ‘teror parlemen’ jika kelak betul menang.

Google+ Followers

Web Partner

AgusWinanto.-